Ia yang Mendahului Kita

Ya, 6 tahun yang lalu  (11/4/2006) ia pergi. Pergi dengan tiba-tiba dan mengejutkan kami semua. Maut memang misteri, tak ada yang tau kecuali Sang Pencipta. Addien Fitrah Husnayain, seorang muslimah yang cantik, baik hati, dan selalu optimis. 

Sore itu aku baru saja selesai mentoring di SMA N 8 Yogyakarta. Tiba-tiba HPku berbunyi pertanda ada panggilan masuk. Di seberang sana suara panik Zeni mengabarkan bahwa Addien meninggal. Deg, aku tak percaya. Aku berharap ini berita tidak benar. Aku terpaku, Isfa berusaha untuk menenangkan.

Kulaju motorku menuju masjid syuhada. Aku lihat Anton di sana. Kutanyakan tentang kabar meninggalnya Addien. Iapun belum yakin dengan kebenarannya. Kami baru percaya kalau Addien meninggal setelah Pak Alan dan Pak Agus (PH Smart Syuhada) membenarkannya karena mereka sudah bertandang ke rumah duka. Sore itu di masjid syuhada, sebelum ke rumah duka aku dan anak-anak smart lainnya berkumpul. Memanjatkan do'a untuk Ia yang telah mendahului kita.

Sabtu sore 4 hari sebelum kepergiannya, aku, Addien, Agyll, Fitri, dan Icha berkumpul di syuhada untuk koordinasi Lomba Kerudung Cantik (LKC) dimana Addien adalah koordinatornya. Seharusnya senin sore kami ketemuan lagi di SMP 11, namun hari ahad itu aku meneleponnya dan minta ijin tidak bisa ikut acara senin sore di SMP 11. Ternyata itu perbicanganku dengan Addien untuk yang terakhir kali. Suaranya lemah sekali saat itu, seperti orang sakit. 

Selasa sore aku dapat kabar Addien meninggal, innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Meskipun aku dan Addien baru dekat saat jadi panitia LKC, aku sangat kagum padanya. Dia adalah sosok muslimah yang teguh dengan pendiriannya. Dia juga rajin puasa senin kamis. Akhir-akhir itu kami sering pulang bareng karena jalan yang kami lalui searah. Dia tinggal di daerah Pundong (Ringroad Demakijo ke utara), aku di daerah Sidomoyo. Sama-sama melewati jalan Godean.

Di saat lampu merah kami suka ngobrol, saat itu Addien pernah bilang "Ukh, ayo main ke rumah". Tetapi aku belum sempat main ke rumahnya. Ya, aku baru bisa ke rumahnya ketika jasadnya sudah tak bernyawa. Keranda jenazahnya yang kutemui di sana. Tidak ada lagi senyum manisnya dan derai tawanya. Ah, Addien aku kangen banget. Pagi ini kupandangi fotomu, ada rasa rindu yang menyeruak. Ada bening yang tertahan, semoga Allah melapangkan kuburmu. Mejadikan kuburmu bagian dari taman surga.

Sepeninggal Addien aku pernah bermimpi bertemu dengannya. Mimpi yang paling kuingat adalah saat kami berada dalam suatu mushola dan ia baru saja selesai melaksanakan shalat dhuha. Ia berikan mukenanya padaku agar aku memakainya untuk shalat.

Yang kudengar dari keluarganya, Addien meninggal selepas shalat dhuha di kamarnya. Maha suci Engkau Ya Allah. Engkaulah yang menghidupkan dan mematikan. Engkaulah yang Maha Mengetahui Setiap Rahasia. Rahasia kematian ada di tanganMu. Semoga ketika kau ambil nyawaku aku dalam keadaan suci, dalam keadaan berdzikir padaMu.

Jadi inget tulisannya Cahya di bukom (buku komunikasi) Smart. Setelah Addien meninggal banyak sekali tulisan dan testimoni tentang Addien di sana. Di saat yang lainnya menuliskan hal-hal yang membuat sedih, Cahya mampu menghibur kami dengan tulisannya. Dia bilang,
  
"Mungkin Addien sedang siap-siap menyambut kita di sana. Menyiapkan karpet-karpet terbaik, menyiapkan hidangan-hidangan yang lezat..........."

Redaksinya gak sama persis, kurang lebih seperti itu. Ya, semoga kita semua bisa reunian disurga nanti. Surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Surga yang berisi kenikmatan dan keindahan. Ya Allah, istiqomahkanlah kami di jalanMu.


Image source: here

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Amor Fati (Cintai Takdirmu) #Review

Banduuuung