Selasa, 06 Desember 2016

Perjalanan dan Pengalaman Spiritual


Melakukan perjalanan adalah hal yang menyenangkan terutama jika dilakukan bersama teman-teman. Mengunjungi daerah baru, menyicipi kuliner khas daerah setempat dan hal-hal baru lainnya. Bagi saya melakukan perjalanan atau bahasa kerennya travelling bukan hanya sekedar berhaha hihi habis-habisin waktu di jalan. Travelling bisa menjadi sarana menyegarkan pikiran sekaligus mengasah pengalaman spiritual.

Alhamdulillah 20-23 November 2016 lalu saya dan teman-teman mendapat kesempatan travelling ke Bali, Banyuwangi, dan Surabaya. Idenya memang mendadak, namun justru karena mendadak ini malah jadi cepat terealisasi. Berbagai transportasi kami gunakan, jalur udara, laut, dan juga darat.

Kami berangkat dari Bandung menuju Bali menggunakan pesawat. Selama di Bali kami menyewa mobil. Kemudian menuju Banyuwangi kami menggunakan kapal very. Waw, seru sekali perjalanan kali ini. Di Banyuwangi, karena salah satu tim kami asli Banyuwangi kami tak perlu  menyewa mobil maupun hotel. Tempat menginap dan transportasi sudah disediakan, alhamdulillah:)


Niat utama kami sebenarnya memang mengeksplor Banyuwangi. Namun karena tiket pesawat dari Bandung ke Surabaya lebih mahal daripada Bandung ke Bali akhirnya kami memutuskan ke Bali terlebih dahulu. Sehari-semalam kami di Bali, tak banyak yang kami jelajahi karena keterbatasan waktu. Pantai Kuta, Sanur, Uluwatu, dan Garuda Wisnu Kencana adalah tempat yang berhasil kami kunjungi. Puas main di Bali kami segera merapat ke Gilimanuk. Kami akan menyeberang ke Banyuwangi menggunakan kapal very. Ongkos kapal very ternyata murah sekali ya, setiap orang hanya dikenakan biaya Rp. 6000.
 
Sore itu meski lelah, kami cukup antusias. Menikmati sunset di atas very yang tidak terlalu padat penumpang. Ngobrol haha hihi dan saling berbagi cerita. Setelah sekitar satu jam very kamipun merapat ke dermaga. Jemputan sudah menunggu, kami shalat jamak qashar magrib dan isya terlebih dahulu. Alhamdulillah, tubuh terbasuh air wudhu, hati, jiwa, dan raga tunduk dalam penghambaan pada-Nya. Maka nikmat-Nya yang manalagi yang kan kau dustakan?


Malam itu kami menikmati kota Banyuwangi, bagi saya Banyuwangi mirip dengan Magelang. Melewati Alun-alun, Masjid Agung, dan heii di Banyuwangi ada mall. Kami mengira Banyuwangi itu terpencil dan tidak ada mall hehe. Seketika kami berhaaaaa bersama ketika melewati mall disusul gelak tawa seisi mobil.

Akhirnya sampai juga dirumah yang dituju, kami bersih-bersih, makan, istirahat sejenak kemudian melanjutkan perjalanan menuju Gunung Ijen. Jujur saya ngantuk dan capek banget sebenarnya. Sekitar pukul 10.30 kami menuju Ijen, dan sampai di basecamp sekitar jam 12 malam. Sudah banyak  traveller yang sampai di basecamp. Gerbang baru akan dibuka pada pukul 01.00 WIB. Kami membeli tiket dan bersiap-siap. Banyak sekali bule yang kami temui, mungkin karena dekat dengan Bali tempat ini ramai oleh orang asing.

Begitu gerbang dibuka kami langsung melakukan perjalanan. Di basecamp banyak jasa pemandu yang menawarkan diri namun kami tidak menggunakan jasa tersebut karena kami sudah punya tour guide sendiri wkwkwkwk. Jangan lupa senter, sarung tangan, maupun jaket saat melakukan pendakian. Oiya bawa air minum dan makanan secukupnya. Jalurnya memang tidak terlalu tinggi (2.443 mdpl). Tapi kalau kalian jarang olahraga ya bakal lumayan ngos-ngosan, yang nggak kuat jalan ada jasa becak (didorong oleh tenaga manusia). Jalur pendakian cukup lebar dan tidak terjal. 

Kami membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk mencapai puncak untuk kemudian turun lagi melihat blue fire. Jalur cukup terjal dan berbatu-batu mendekati blue fire. Ketika mendekat ke blue fire tiba-tiba blue fire padam dan menimbulkan asap yang membuat pedih mata. Kami sedikit panik kemudian naik lagi ke atas. Kami menikmati blue fire dari atas. Dan jeng-jeng, haripun mulai terang dan pemandangan Kawah Ijen memesona mata kami. Subhanallah indah sekali, kawah yang berwarna hijau toska ini menyihir setiap mata yang melihatnya. 

Setelah puas menikmati kawah Ijen kami segera turun ke basecamp. Pemandangan sepanjang perjalanan kembali ke basecamp juga tak kalah memanjakan mata. Lereng gunung dengan kontur yang khas, pepohonan, dan juga pemandangan Gunung Raung dan Kemukus yang terlihat seperti gunung kembar.
Perjalanan kami lanjutkan menuju Taman Nasional Baluran, konon ini merupakan Afrikanya Indonesia. Banyak hewan-hewan liar disana, ada rusa, monyet, banteng, ular kobra, burung merak, dan lain-lain. Alhamdulillah kami bisa menjumpai kawaran rusa, burung merak, banteng, dan juga monyet. Di ujung taman Nasional ada Pantai Bama yang dikelilingi hutan mangrove. 

Jujur kami lelah sekali hari itu. Sebenarnya masih ingin mengunjungi beberapa tempat di Banyuwangi namun kelelahan kami mengalahkan keinginan itu. Sekitar jam 5 kami sudah sampai rumah dan tertidur dengan pulas. Baru terbangun saat adzan isya, masyaAlloh.


Esok harinya (23/11) kami berangkat naik kereta dari Banyuwangi ke Surabaya. Sesampainya di Surabaya kami mampir di Royal Plaza untuk makan siang kemudian menuju Jl. Darmo untuk melihat patung suro dan boyo (icon Surabaya). Setelah itu kami mampir di Masjid Al Falah untuk menunaikan shalat. Acara di lanjutkan ke Excelso Surabaya. Ceritanya kami diundang oleh salah satu teman baik anggota rombongan kami. Alhamdulillah rezeki anak sholeh ada yang menjamu di Excelso:)

Setelah dari Excelso kami segera menuju Stasiun Gubeng untuk melanjtkan perjalanan ke Bandung. Alhamdulillah pas waktunya, tidak terlambat. Kurang lebih sekitar 13 jam kami menempuh perjalanan menggunakan kereta Surabaya-Bandung. Seru sih naik kereta rame-rame. Melelahkan namun kelelahan itu terbayar dengan pengalaman yang kami dapatkan.

Bagi saya melakukan perjalanan tak hanya sekerdar usaha untuk melepas stress namun bagian dari upaya untuk mengasah spiritual. Banyak pengalaman spiritual yang saya dapatkan selama perjalanan. Saat di udara saya merasa begitu kecil, Maha Besar Alloh yang menciptakan langit dan bumi. 

Alloh memberikan keringanan bagi para pejalan untuk menjamak qhasar shalatnya, betapa Alloh itu memudahkan kita untuk beribadah namun karena keegoan dan kemalasan kita tak jarang orang yang travelling lalai dari ibadah. Dengan travelling saya bisa mempraktekkan ibadah-ibadah yang selama ini baru sebatas teori saja seperti shalat di atas kendaraan, tayamum saat tidak mendapati air di puncak gunung dan lain sebagai-Nya.

Niatkan setiap perjalanan untuk meraih ridho-Nya, insyaAllah kita akan mendapatkan apa yang kita niatkan.
Travelling memberikan waktu bagi saya untuk lebih banyak merenung sepanjang perjalanan, mengenali dan mengakui tanda-tanda kebesaran-Nya. Ah betapa kita ini angat kecil dan tak ada artinya tanpa bimbingan dari-Nya.

See you to the next travell!!! :)


Senin, 14 November 2016

Catatan Anak Rantau #2 Berdamai Dengan Teh Tawar

Sejak kecil saya terbiasa minum teh manis setiap hari. Tiap pagi ibu atau Mbah Putri menyiapkan teh hangat untuk keluarga. Bisa dibilang saya tidak terlalu suka minum air putih karena rasanya nggak manis. Dulu kalau minum air putih biasanya saya tambahin gula biar manis. Saya mulai terbiasa dan doyan minum air putih tanpa gula ketika mulai aktif di Klub Badminton sejak kelas 4 SD. Sebelumya saya sangat tidak suka.

Di Bandung, di setiap rumah makan baik rumah makan sederhana (warteg, warung bakso, warung pecel lele dll) atau yang mahalpun (misal Cibiuk, Sop Buntut Dahapati dll) biasanya kita akan disuguhi teh tawar gratis. Awalnya saya merasa aneh dengan rasa teh tawar. Lha wong biasanya saya minumnya teh manis, eh ini dikasihnya teh tawar (teh tanpa gula). Ya kurang cocoklah di lidah heuheuheu

Seiring berjalannya waktu dan kebiasaan #cieh akhirnya terbiasa juga minum teh tawar. Lama-lama nikmat juga walaupun kadang-kadang saya suka nakal untuk tetap pesan teh manis hehehe. Yap, kadang kita harus berdamai dengal hal-hal yang tidak suka ya. Lama-lama ketika kita mau menerimanya kita juga akan menikmatinya. Sama halnya dengan air putih maupun teh tawar yang awalnya saya tidak suka. Kuncinya adalah menerima dan membiasakannya.

Dalam hidup ini pasti ada jugal hal-hal yang tidak kita sukai namun sering kita jumpai. Semoga kita bisa berdamai dengan hal-hal tersebut dan tetap menikmati hidup ini. Seee you di postingan berikutnyaa:)
Salam Teh Tawar!!!! hahahaha


Jumat, 11 November 2016

Belajar dari Buya Hamka

Bulan Juni 2016 lalu saya membeli dua buku, pertama buku Sejenak Hening karya Adjie Silarus kedua buku Ayah karya Irfan Hamka. Untuk buku Sejenak Hening saya cepat dalam menamatkannya tapi entahlah ketika membaca buku Ayah saya baru tamat tadi malam. Ya, mungkin karena saat itu masih di asrama dan aktifitas cukup padat sehingga badan cepat lelah. Selain itu ada hal-hal yang harus saya prioritaskan sehingga menyebabkan semakin lama menyelesekainnya, dan satu lagi  yaitu kebanyakan mantengin media sosial sehingga menyita waktu dan melupakan buku :(

Untuk buku Sejenak Hening lain kali aja review- nya hehehe, harus dibuka-buka lagi. Kali ini saya ingin sedikit mengulas buku Ayah karya Irfan Hamka. Ya buku ini mencerikatakn tentang Buya Hamka, mulai dari masa muda, menjadi ulama, sastrawan, politisi, kepala rumah tangga hingga ajal menjemputnya.


Kisah-kisah dalam buku ini ditulis oleh Irfan Hamka putra kelima beliau dengan ringan seperti cerpen. Buya Hamka mengenyam pendidikan secara resmi hanya sampai tingkat sekolah dasar. Selebihnya beliau lebih banyak menghabiskan waktunya untuk belajar otodidak dan berguru kepada tokoh/ulama baik dari Sumatera maupun Jawa. Belau juga pernah menghabiskan waktunya belajar di Mekkah.

Semangat belajar belau sangat tinggi maka tak heran beliau juga menghasilkan karya tulis yang banyak baik berupa artikel, buku-buku seperti  novel, buku tasawuf,  dan karyanya yang paling fenomenal adalah Tafsir Al Azhar yang beliau tulis saat beliu di penjara.

Beliau adalah orang yang sangat dekat dengan Al Qur'an, hal tersebut ditunjukkan saat beliau ditemani istri dan anaknya saat melakukan perjalanan ke Timur Tengah. Dalam perjalanan beliau sering mengisi waktunya dengan membaca Al Qur'an. Beliau juga sangat kukuh dalam memegang aqidah, pernah beliau mengundurkan diri dari jabatan Ketua Majelis Ulama Indonesia karena beliau enggan menarik fatwa bahwa orang muslim dilarang mengikuti perayaan natal.

Beliau juga orang yang penuh kasih sayang baik kepada keluarga, orang-orang menyakitinya, bahkan terhadap hewan peliharaannya Si Kuning (seekor kucing berwarna kuning). Beliau menghembuskan nafas terakhirnya karena sakit diabetes yang dideritanya telah mengalami komplikasi. Saat beliau meninggal ribuan pelayat mengantarkan kepergiaannya. Banyak yang menziarahi pusaranya. MasyaAlloh

Banyak pelajaran yang dapat diambill dari kisah hidup Buya Hamka, tentang semangat belajar, keteguhan menjaga iman, kasih sayang dan juga perjuangannnya sebagai seorang pribadi, kepala rumah tangga, politisi, ulama, dan juga abdi negara.

Bagi yang penasaran tak ada salahnya menambahkan buku ini ke dalam koleski perpustakaan pribadi Anda. Semoga Alloh senantiasa menjaga kita bersama orang-orang sholeh. Aamiin:)