Rabu, 14 Februari 2018

Pindah Kos

Finally, saya pindah kos. Setelah sekitar 8 bulan tinggal di daerah Jl. Veteran sekarang saya pindah ke kos yang lebih dekat dengan kantor di daerah Kayuringin. Kos yang lama sebenarnya cukup nyaman namun dari 8 kamar yang ada saat ini hanya saya sendiri yang menempati. Horor kan? sebelumnya sih ada 5 kamar yang terisi, kemudian semakin berkurang dan berkurang. Alasan-alasan kepindahan anak kos kebanyakan adalah karena pindah ke luar kota. Tadinya masih tersisa dua orang di kos, saya dan satu orang lagi. Namun sekitar bulan September 2017 dia pindah. Ada kejadian yang kurang mengenakkan waktu itu, motornya hampir dicuri orang. Sejak saat itu saya tinggal sendirian. 

Sebenarnya ada ibu kos dan anaknya juga sih di lantai satu karena semua kamar kos di lantai dua. Sayapun bukan tipe orang yang penakut, apalagi kalau udah di kamar saya mah enjoy-enjoy aja. Tapi Saya merasa kesepian dan nggak ada teman. Selain itu ibu kos juga sering pergi ke rumah anaknya, jadi tak jarang saya sendirian di rumah yang luas itu (plus emang sebenarnya rumahnya nyeremin). Yang paling penting saya tuh butuh suasana yang seperti "rumah", yang banyak orangnya dan suasananya hangat.

Saya kemudian resah mencari kos-kosan, beberapa kali saya sudah meninjau langsung kos namun banyak yang nggak cocok. Ada yang cocok tapi ada kendala di tempat parkir motor sampai akhirnya saya melupakan rencana pindah dan tetap bertahan di kos lama meski sendirian. Sekitar satu setengah yang lalu saya dikabari teman kalau di daerah X ada banyak kos cewek. Sehari atau dua hari kemudian saya minta diantar ke lokasi X. Ada satu kos cewek pertama yang kami datangi dan sayapun langsung cocok. Ya sudah akhirnya bertransaksi dengan ibu kos dan menyampaikan rencana kepindahan saya.

Mencari kos memang bukan hal yang mudah, kayak nyari jodoh kali ya? hahaha, padahal saya mah belum teruji kalau soal jodoh hahaha (lha wong masih single #curcol). Ada saat dimana saya buru-buru banget ingin pindah tapi malah nggak dapat. Disaat saya mulai kalem nggak terburu-buru, eh ada aja jalannya dan rasanya kok mudah banget. Baru lihat satu kosan langsung cocok, alhamdulillah.

Berikut ini saya ingin memberikan beberapa tips dalam mencari kos sesuai dengan pengalaman saya, semoga bermanfaat ya. cekidot!

Referensi online
Saya biasanya seraching dulu di internet untuk mendapatkan beberapa referensi kos. Biasanya saya mencari lewat olx atau mamikos. Infonya cukup lengkap mulai dari  jenis kosnya (putra/putri/campur), lokasi, fasilitas, dan juga harganya. Kita bisa membandingkan antara kos satu dan kos lainnnya kemudian menentukan kos-kos mana yang akan kita datangi untuk memastikan kondisinya. 

Rekomendasi Teman
Nah kalau ada teman atau kenalan yang juga anak kos bisa meminta rekomendasi dari mereka karena ini sangat memudahkan. Enak juga kan kalau langsung dapat teman kos yang sudah kenal, paling nggak kita nggak akan merasa kesepian.

Melihan kondisi riil
Melihat kondisi riil kos-kosan ini penting banget agar kita nggak kecewa baik setelah mencari informasi online maupun setelah mendapatkan rekomendasi dari teman agar kita bisa membandingkan antara yang ditawarkan dan kenyataannya. Selain itu agar kita juga merasakan suasana dan "feelnya", biasanya kalau saya merasa cocok hati tuh rasanya nyaman dan yakin.

Cari yang strategis
Yang strategis itu yang seperti apa? kalau menurut saya yang strategis itu adalah: yang tidak jauh dari kantor karena ini akan menghemat tenaga dan biaya transportasi. Yang akses jalannya mudah, biar kalau pindah bawa barang-barang yang banyak kita nggak kesulitan ngangkutnya apalagi jika bawa kendaraan roda empat. Jangan sampai nyari kos yang berada di gang-gang sempit. Yang gampang untuk mencari tempat makan dan kebutuhan sehari-hari seperti toko kelontong, laundry, dan lain-lain

Nyari yang sudah isi
Nyari yang sudah isi maksudnya adalah nyari kos yang udah ada isinya, minimal ada kasur dan lemari. Soalnya repot banget kalau belum ada isinya, kita harus meluangkan waktu, tenaga, dan biaya yang lebih untuk mengisinya(minimal beli kasur atau lemari). Biasanya kos isi memang lebih mahal daripada kos yang kosongan, namun ini akan lebih memudahkan kita jika suatu saat harus pindah lagi (barangnya nggak kebanyakan).

Sesuaikan budget
Nah ini penting banget! Pilihlah kos sesuai dengan budget yang kita punya. Jangan memaksakan diri  pengen nge-kos mewah tapi malah setelah itu gaji kita terkuras hanya untuk bayar kos-kosan. Kalau kata seorang financial planner sih budget untuk sewa kos itu ya sekitar 10% dari gaji. Ya diutak-atiklah ya gajinya, ditimbang timbang dengan gaji sekian kira-kira besaran biaya kos yang mampu ditanggung berapa. Selain itu biaya pengeluaran sehari-hari juga jadi pertimbangan seperti biaya makan, transportasi, komunikasi, tabungan, investasi, dll agar status keuangan kita tetap sehat dan tidak lebih besar pasak daripada tiang.

Semoga tulisan ini bermanfaat! See you!

Jumat, 12 Januari 2018

Anak Rantau (Book Review)

Setelah beberapa kali mencari buku ini di Gramedia Mall Metropolitan Bekasi tetapi tidak menemukannya, akhirnya saya menemukannya di Gramedia Jogja City Mall (JCM) saat sedang mudik. Saat itu saya janjian dengan teman di JCM, sambil menunggu teman saya yang belum datang saya jalan-jalan di Gramedia dan akhirnya membeli novel Anak Rantau  karya A. Fuadi.

Karya-karya A. Fuadi yang sebelumnya yaitu Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna, dan Rantau 1 Muara sangat menginspirasi saya. Karena itu saya tidak ragu-ragu untuk membeli karya terbarunya Anak Rantau. Selain itu mungkin kesamaan nasib ya, sekarang saya jadi anak rantau jadi ingin tau apa yang diceritakan A. Fuadi dalam novelnya kali ini.

Novel ini bercerita tentang seorang remaja bernama Hepi yang merupakan keturunan Minang. Hepi sejak lahir sudah ditinggalkan oleh ibunya karena meninggal dunia setelah melahirkan  Hepi. Dia hidup bersama ayah dan kakak perempuannya di Jakarta. Hepi adalah anak yang cerdas dan suka sekali membaca buku. Alangkah mengejutkannya saat pembagian rapor kenaikan kelas wali kelas Hepi mengatakan jika Hepi tidak naik kelas. Ya, Hepi banyak berulah dengan sering membolos bahkan lembar ujiannya tidak diisi. Akibatnya rapornya kosong dan dia dinyatakan tidak naik kelas. Sang Ayah sangat terkejut karena menurutnya anakanya adalah anak yang pintar. Ayahnya tak banyak bicara namun dia sudah menyiapkan sesuatu untuk Hepi.

Ayah Hepi akhirnya mengajak Hepi mudik (pulang kampung) ke kampung halamannya di Tanjuang Durian Padang. Hepi senang sekali karena selama ini setiap kali Hepi mengajak ayahnya mudik ayahnya selalu keberatan. Ini sangat aneh menurut Hepi karena dia harusnya mendapatkan hukuman dari ayahnya namun ayahnya malah mengajaknya liburan ke kampung halaman. Apa yang dilakukan Hepi selama ini adalah bagian dari protesnya terhadap Sang Ayah karena ia menganggap ayahnya kurang memperhatikannya.

Betapa bahagianya Hepi akhirnya bisa merasakan mudik ke kampung halaman dan bertemu dengan kakek dan neneknya. Hepi juga mendapatkan teman baru yang benama Attar dan Zen. Hal yang mengejutkan lagi terjadi. Ternyata ayahnya  bersama kakek dan neneknya sudah membuat rencana untuk Hepi agar Hepi melanjutkan sekolah di kampung saja. Hal itu baru diketahui saat Hepi sudah berkemas dan akan ikut kembali ayahnya ke Jakarta namun ayah Hepi malah meninggalkannya. Hepi sangat marah dan kecewa terhadap ayahnya.  Hepi merasa dibuang oleh ayahnya. Kemudian dia bertekad akan mengumpulkan uang dan akan kembali ke Jakarta secepatnya. Di sinilah petualangan Hepi yang sesungguhnya dimulai.

Novel ini dikemas dengan latar bekalang adat istiadat Minang. Banyak hikmah yang bisa diambil dari novel ini diantaranya adalah tentang memaafkan, berdamai dengan masa lalu, ketuhanan,  nasionalisme, pendidikan, dan juga tentang hubungan anak dan orang tua.

Berikut adalah salah satu nasehat Pandeka Luko (salah satu tokoh dalam novel tersebut) yang cukup menyentuh: 

"Bagaimana sedih dan merasa terbuang itu melemahkan. Bagaimana terlalu berharap kepada manusia dan makhluk itu mengecewakan. Jadi, kalau merasa ditinggalkan, jangan sedih. Kita akan selalu ditemani dan ditemukan oleh yang lebih penting dari semua ini. Resapkan ini: kita tak akan ditinggalkan Tuhan. Jangan takut sewaktu menjadi orang terbuang. Takutlah pada kita yang membuang waktu. Kita tidak dibuang, kita yang merasa dibuang. Kita tidak ditinggalkan, kita yang merasa ditinggalkan. Ini hanya soal bagaimana kita memberi terjemah pada nasib kita."

Happy reading yaa!!!






Kamis, 11 Januari 2018

Long Holiday!


Yay! Alhamdulillah akhirnya anak rantau mudik. Mudik kali ini agak deg-degan karena H-2 mudik saya malah sakit demam sampai menggigil. Mungkin karena kecapekan setelah ada kegiatan 3 hari di daerah Jawa Tengah. Sebelum mudik saya mampir Bandung dulu, sengaja sih memang ingin jalan-jalan ke Bandung. Saya hanya semalam menginap di Bandung, seharian jalan-jalan di sana kemudian malamnya berangkat ke Jogja dari Bandung. Aduhai, karena kecapekan saya demam lagi saat perjalanan. Duh rasanya tidak nyaman sekali. Bawaannya pengen cepet-cepet sampai rumah.

Setelah perjalanan kurang lebih 8 jam akhirnya sampai di Jogja. Begitu sampai rumah saya istirahat di kamar. Setelah agak siang Ibu saya mengajak saya untuk ke rumah sepupu saya dalam rangka persiapan pernikahan sepupu. Tadinya  nggak ingin ikut, eh akhirnya ikut juga. Seneng sih ketemu saudara-saudara.

Kurang lebih 8 hari saya di kampung halaman. Alhamdulillah, setelah dua tahun berturut-turut tiap akhir tahun terjebak di tanah rantau akhirnya tahun ini bisa pulang hehehe. Selama di kampung halaman saya lebih banyak di rumah  kalaupun pergi itu bukan dalam rangka berwisata hanya sekedar ketemu dengan teman-teman saja. Makan bareng, ngobrol, dan nostalgia hahaha. Tau sendiri kan tiap akhir tahun Jogja ramainya kayak apa, jadi ya mending di rumah aja.

Seharusnya saya mulai masuk kantor tanggal 2 Januari 2018 tetapi saya baru masuk tanggal 4 Januari 2018. Saya ijin karena tiket kembali ke arah Jakarta sebelum tanggal 2 Januari sudah habis. Saya kembali ke Bekasi lewat Bandung karena tiket yang arah ke Jakarta tinggal tiket kereta dengan connecting train (harus transit dulu di Bandung dan memakan waktu sekitar 14 jam). Mending saya memilih tiket Jogja-Bandung kemudian di lanjutkan dengan Bandung-Bekasi dengan kereta. Saya lebih bisa mengatur waktu saya untuk transit di Bandung dan sejenak jalan-jalan di kota kesayangan saya ini hehehe.

Oiya saat transit di Bandung saya menyempatkan diri ke Trans Studio Mall (TSM) untuk nostalgia dan ketemu teman kos saya yang akan menikah. Kami makan dan ngobrol bareng. Saat saya mau ke stasiun ternyata hujan deras sekali. Mau nggak mau saya harus naik taksi atau order Go Car. Akhirnya saya order Go Car. Saat itu memang saat jam sibuk dan macet. Saat order Go Car waktu menunjukkan pukul 18.30 WIB dan kereta saya akan berangkat pukul  19.25 WIB. Driver Go Car  mengatakan tak bisa menjamin saya bisa sampai stasiun sebelum kereta saya berangkat saat menelepon. Saya diminta menunggu sekitar 20 menit karena macet sekali katanya. Benar saja sekitar 20 menit mobilnya baru sampai di lobi TSM. Begitu mobil datang saya masuk mobil  dan mencoba menenangkan diri  dengan banyak berdzikir, pasrah saja ke Alloh. Kalau memang saya terlambat saya akan naik kereta yang jam 11 malam (saat saya cek di traveloka masih ada kursi terisa). 

Titik macet memang  di daerah jl. Gatot Subroto. Alhamdulillah saat sampai  di perempatan Jl. Pejuang dan seterusnya jalanan lancar jaya dan saya tidak terlambat sampai stasiun bahkan saya  masih punya waktu untuk menjamak qasar shalat magrib dan isya' saya di musholla stasiun. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah. Perjalanan yang panjang tapi mengasyikkan, saya sangat menikmatinya. Terima kasih ya Allah atas nikmat dan kemudahan-kemudahan yang Engkau berikan:)


Senin, 16 Oktober 2017

Ragusa Italian Ice Cream

Hari minggu (15/10/2017) saya ada janji dengan teman di Jakarta. Kami memutuskan untuk ketemu di Istiqlal sekalian ikut kajian bersama Aa Gym, namun ternyata info yang disampaikan teman saya salah. Tidak ada kajian Aa Gym pada hari itu. Kami tetap memutuskan untuk bertemu di Istiqlal karena saya belum pernah kesana, seringnya lewat doang hehehe.


Pagi itu saya naik KRL dari Bekasi menuju Jakarta Kota. Saya turun di Stasiun Juanda, keluar dari stasiun kemudian menyebrang di Jembatan penyeberangan  dan taraaaa sampai deh di Masjid Istiqlal. Hari itu Jakarta terasa panas sekali, panasnya sangat menyengat. Istiqlal juga ramai sekali, banyak bus-bus dari luar kota. Ternyata di sana sedang berlangsung kegiatan komunitas Tarekhat Islamiah (apa gitu saya lupa tepatnya). Di aula utama penuh banget dan akhirnya saya memilih menunggu teman saya di selasar selatan. Oooh, ini toh yang namanya Istiqlal. Akhirnya saya berhasil ke sini juga:D

Masjid Istiqlal

Karena kondisi Istiqlal sedang kurang nyaman menurut saya (saking banyaknya orang) kami memutuskan untuk ngobrol dan mencicipi Ragusa Italian Ice Cream yang terletak di selatan Masjid Istiqlal. Tokonya sih tidak terlalu luas namun ramai sekali, beruntung kami dapat tempat duduk. Kamipun segera memesan es krim kemudian teman saya memesan asinan Jakarta yang ada di sebelah Ragusa. Oiya di Ragusa ini memang hanya ada es krim dan minuman ringan yang dijual, untuk makanan kita bisa pesan di food court kecil yang ada di sebelah toko Ragusa. Di sana tersedia sate ayam, asinan Jakarta, gado-gado dan lain-lain. Banyak pengunjung yang memesan es krim kemudian memesan makanan di sana. Oiya asinan Jakartanya enak juga lho, seger banget di lidah.


Banana Split, enak banget :p

Asinan Jakarta, Chocolate Sundae, & Banana Split

Untuk harga es krim mulai Rp. 15.000-35.000, kalau untuk makanannya saya kurang tau berapa harganya karena dibayarin hehehe (alhamdulillah). Untuk rasa es krimnya enak banget. Manisnya pas dan tidak bikin eneg. Lumayan, saya dapat rekomendasi tempat lagi untuk "kabur" jika sedang bosan di Bekasi hehehe. Ragusa ini bisa jadi alternatif tempat kuliner bareng teman-teman atau keluarga.

Senangnya hari itu bisa silaturahim dengan teman, ngerasain es krim enak dan makanan enak. Alhamdulillah, alhamdulillah, see you:)

Jumat, 06 Oktober 2017

Gen M #Review

Akhirnya beli juga buku Gen M. Saya mengetahui buku ini dari postingannya Pak Yuswohady. Saya termasuk pengunjung setia situs pribadinya. Entah mengapa saya selalu tertarik membaca postingan-postingan beliau yang berkaitan dengan branding, marketing, dan lain-lain. Sebenarnya saya suka membaca postingan beliau sejak saya punya amanah sebagai tim marketing PKPU Yogyakarta (2009-2015). Ternyata kebiasaan membaca blog beliau tak berkurang setelah saya tidak menjadi tim marketing lagi hehehe.

Gen M adalah sebutan yang diberikan oleh Pak Yuswohady dan tim untuk generasi muslim yang religius, modern, inklusif, dan makmur. Ide menulis buku ini tercetus setelah buku Marketing to The Middle Class Moslem. Dalam buku Marketing To The Middle Class Moslem dapat digambarkan 4 sosok konsumen kelas menengah Muslim yaitu Apatis, Rasionalis, Konformis, dan Universalis. Sosok universalis ini yang diprediksi Pak Yuswohady dan tim akan semakin berkembang jumlahnya dan menjadi kekuatan pasar yang luar biasa. Segmen pasar Universalis ini yang kemudian oleh Pak Yuswohady disebut dengan Generation Muslim #GenM.

Berikut ini adalah beberapa karakteristik Gen M:

Religius
Mereka adalah sosok yang memiliki iman, Islam, dan ihsan yang tinggi. Sangan concern dengan nilai-nilai keislaman. Contoh yang sangat terlihat adalah mereka sangat memperhatikan kehalanan suatu produk.

Modern
Mererka adalah sosok yang berpengetahuan luas, melek teknologi,eksis di dunia digital, dan memiliki global mindset.

Universal Goodness (Rahmatan lil 'alamin)
Mereka adalah sosok-sosok dengan karakteristik yang humanis dan inklusif. Mereka ingin menampilkan Islam sebagai agama yang cinta damai dan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. Mereka juga merupakan pribadi-pribadi yang menjunjung toleransi.

High Buying Power
Gen M adalah kelas menengah yang sudah tercukupi kebutuhan dasarnya. Mereka konsumtif dan produk-produk yang dikonsumsipun bukan hanya produk lokal tetapi juga produk global. Namun mereka juga termasuk kelompok masyarakat yang sudah sadar untuk mengelola keuangan. Selain itu mereka juga termasuk orang yang pemurah (rajin memberi). Dikutip dalam buku ini, "Semakin kaya, semakin pintar, semakin banyak memberi". Itulah gambaran Gen M.


Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar di sini mengenai karakteristik Gen M. Yang jelas buku ini sangat informatif sekali menjelaskan tentang siapa itu Gen M, insight dan bagaimana strateginya untuk menarik segmen ini dalam pemasaran. Buku ini layak dibaca siapa saja terutama buat para pebisnis. Selain itu buku ini juga cocok dibaca untuk para aktifis masjid atau aktifis dakwah yang menyasar #GenM. Dakwah jaman sekarang harus kreatif apalagi jika sasarannya adalah generasi muda.

Selamat membaca! Have a nice day!:)


Senin, 02 Oktober 2017

Mbaknya Sendirian?

Jadi ceritanya hari Sabtu kemarin (30/0/2017) saya jalan-jalan sendiri ke Grand Galaxi Park. Setelah dari Al Azhar Jakapermai saya langsung cuss kesana. Niatnya sih mau nyari jaket sama tas kanvas karena baru ada Clothing Festival di sana. Nah karena udah lapar banget, setelah dari parkiran saya langsung cari tempat makan. Akhirnya saya memutuskan untuk makan di Solaria. Saya duduk di lantai dua dekat jendela dan posisinya ada di pojok. 

Sambil menunggu pesanan datang saya buka-buka HP. Tak lama setelah itu ada seorang pemuda dan dua orangnya temannya datang dan mencari meja. Di depan saya ada meja kosong yang muat untuk empat orang tetapi mejanya kotor karena sisa makanan belum dibersihkan. Entah mengapa mereka milih di meja itu padahal ada meja lain yang sudah bersih disampingnya.

Tak lama kudengar kasak-kususk dari mereka. Kasak-kusuk itu bunyinya adalah, "Mbaknya sendirian". Mbaknya siapa sih batinku? Karena disitu mbak-mbak yang sendirian cuma aku yang lainnya bergerombol, ada yang sama keluaganya, ada yang sama temen-temennya. Akulah satu-satunya yang sendirian duduk di dekat meja mereka. Dan woi, mereka bukan bisik-bisik, kalau bisik-bisik mah aku nggak bakalan denger.

Aku cuek aja sambil mainan HP, sok cool gitu lah. Terus kenapa kalau aku sendirian???!!!
Nah pesenankupun datang, aku makan dengan lahapnya, udah lapeeeeeeeer banget. Obrolan mereka cukup terdengar dari mejaku. Sepertinya mereka adalah anak-anak fresh graduate yang lagi ngomongin masa depan (kerjaan), ada yang lagi cerita soal mau daftar BUMN, ada yang nggak tertarik daftar PNS dan lain-lain. Fiuhhhh, dasar anak muda!!! (eh, sok tua aku padahal muda juga wkwkwkwk).

Selesai makan, minuman yang kupesan belum juga datang, terpaksa deh harus teriak-teriak ke Mbak pelayan untuk minta minuman. Maklum udah seret banget tenggorokan. Sesekali aku melirik 3 anak muda itu. Duh dek, moga-moga masa depan kalian cerah. Setelah menyelesaikan makan dan minum aku masih asyik dengan HPku sambil menikmati suasana malam itu. Setelah merasa cukup, akupun segera beranjak pergi dan  jeng-jeng, ketika aku melangkah pergi terdengar salah satu dari anak muda itu bilang, "Mbaknya sendirian."

Baru kali ini aku ngalamin kejadian kayak gini huhuhuhu. Aku nggak tau gimana tampangku pada malam itu (apa aku terlalu kece malam itu? halah ^^). Sudahlah Che, ini namanya ujian. InsyaAllah bentar lagi enggak sendirian, aamiin, aamiin, aamiin  (doa orang yang dizalimi semoga segera dikabulkan). Postingan kali ini bernada curhat colongan, sudahlah. See you :)

Selasa, 12 September 2017

Amor Fati (Cintai Takdirmu) #Review

Saya menemukan buku karya Rando Kim saat jalan-jalan di Gramedia Mall Metropilitan Bekasi. Niatnya sih nyari tas backpack tapi malah buku yang  nyantol. Beberapa kali saya melihat sekilas buku ini di laman website yang saya kunjungi tetapi lupa website apa  saja karena cukup masif hehe J. Saya mengira Amor Fati adalah novel karena saya tidak memperhatikannya dengan seksama ternyata Amor Fati adalah buku pengembangan diri yang berisi renungan-renungan untuk mereka yang sedang beranjak dewasa (halah).

Buku ini ditulis oleh Rando Kim, seorang dosen  Jurusan Ilmu Konsumen, Fakultas Ilmu Sosial di Seoul National University dan merupakan salah satu buku best seller di Korea. Saya tertarik membeli karena sepertinya pas sekali dengan kondisi saya saat ini yang sedang beranjak dewasa (halah). Buku ini memang ditujukan bagi meraka yang sedang berada di ambang kedewasaan dengan segala macam dinamika dan guncangannya.

Menurut Rando Kim dewasa bukan merujuk pada satu titik dalam perkembangan manusia, melainkan sebuah proses untuk mampu mengatasi cobaan hidup. Seseorang menjadi dewasa setelah mengalami berbagai cobaan dan belajar sedikit demi sedikit tentang kehidupan.

Renungan-renungan dalam buku ini banyak sekali mulai dari masalah karir, keluarga, pernikahan dan lain-lain. Dengan membaca buku ini kita diajak untuk jujur pada diri sendiri dan seolah-olah kita sedang diajak ngobrol oleh Sang Penulis.

“Membaca hanya akan membawa kita sampai pada kesimpulan, tetapi menceritakan kisah sendiri akan bisa menyembuhkan diri sendiri”

Melalui buku ini kita diajak untuk mengungkapkan apa yang kita rasakan dalam proses pendewasaan kita. Banyak sekali value yang saya dapatkan dalam buku ini. Alangkah lebih indahnya jika value itu juga bisa dirasakan oleh orang lain, karena itu saya sedikit mengulasnya di blog.


Selamat membaca! Tak ada salahnya melengkapi buku ini dalam koleksi bacaan pribadimu!:)