Senin, 22 Oktober 2018

Hallo Sulawesi!

Heloo!!! udah lama banget ya nggak update blog, kalau anak jaman sekarang bilang jari ini mager rasanya (malas gerak hahaha). Kali ini saya ingin sedikit cerita pengalaman pertama saya ke Makassar.  Saya ke Makassar dalam rangka melakukan tugas kantor untuk merekrut calon peserta pelatihan. Tujuan utama saya bukan ke Makassarnya sih, tetapi ke kabupaten tepatnya ke Kabupaten Pangkep (singkatan dari Pangkajene dan Kepulauan) di Sulawesi Selatan.

Kami melalui perjalanan udara sekitar 2 jam. Alhamdulillah 2 jam nggak begitu terasa karena bisa tidur dan ada hiburan di pesawat hehehe. Begitu mendarat di Bandara Sultan Hasanudin saya kok malah jadi inget bandara Adi Sutjipto Jogjakarta ya? pemandangannya mirip yaitu dikelilingi bukit-bukit.

Alhamdulilah dinas yang kami tuju mengirimkan perwakilan untuk menjemput saya dan tim ke bandara. Kamipun langsung menuju Pangkep. Saya sangat menikmati perjalanan karena ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di pulau Sulawesi. Sempat ada kekhawatiran saat mau ditugaskan karena Sulawesi sedang ada musibah khussnya di Sulawesi Tengah, ternyata untuk daerah Sulawesi Selatan termasuk daerah yang aman. Alhamdulillah.

Di perjalanan saya sambil membayangkan pulau Sulawesi sambil mengira-ira saya sedang berada di titik yang mana. Senangnya pas memasuki daerah Marros yang banyak terdapat bukit-bukit di kanan kirinya. Ternyata Obyek Wisata Ramang-Ramang yang terkenal itu ada di Marros. Bukit-bukitnya sih terlihat indah, namun saya dan tim tidak sempat mampir karena waktu itu sudah terlalu sore dan di hari berikutnyapun kami sangat sibuk.

Sekitar pukul 16.00 WIB kami sampai penginapan, sholat, istirahat, bebersih dan lain-lain. Kemudian kami diajak menikmati makanan yang bernama sop saudara.  Saya mengira sop saudara itu nama restoran seperti rumah makan sederhana, ternyata sop saudara itu adalah nama makanan. Jadi sop saudara itu semacam soto kalau menurut saya tetapi kuahnya menggunakan santan yang encer kemudian di dalamnya banyak daging dan jeroan. Enaaak nyaaaaammm.

Setelah itu kami juga diajak menikmati kuliner khas Makassar seperi sarabba (minuman yang terbuat dari jahe, santan, susu, bisa ditambahkan telor juga). Saya sih memilih sarabba yang biasa tanpa telor, takut amis kalau pakai telor hahahaha. Menurut saya sih sarabba itu mirip sama bandrek. Nikmat banget makan sarabba di pusat kota Pangkep sambil ditemani gorengan dan ngobrol ngalor ngidul. Saya sangat terkesan dengan keramahan panitia di daerah dalam menyambut kami.

Hari berikutnya kamipun melakukan proses seleksi yang cukup melelahkan. Ada sekitar 47 orang yang kami seleksi yang nantinya hanya akan diambil 25 perwakilan untuk diberangkatkan ke Bekasi untuk mengikuti pelatihan. Sekitar jam 17.00 WITA kami baru selesai dalam melakukan proses seleksi. Alhamdulillah leganya.

Oiya untuk siang harinya kami sempat menyicipi makan siang dengan sop konro di dekat lokasi seleksi. Tempat makannya sih biasa kayak di rumah gitu tetapi ternyata banyak artis-artis yang pernah kesitu. Nikmat sekali lagi lapar langsung makan enak. Nama rumah makannya itu RM. Minasa Te'ne .

Sop Konro


Rasa sop saudara sama sop konro hampir mirip sih tapi kalau konro itu ada tulang-tulang nya yang gede hehehe. Malamnya sebelum ke Makassar kami sempat mencicipi Mie kering di salah satu cafe di Pangkep. Lumayan juga rasanya walaupun bagi saya porsinya terlalu besar. Mi keriting itu Mie kering yang disiram dengan kuah kental yang berisi sayuran dan daging ayam atau bisa juga sea food (tergantung mau pilih yang apa). 2 hari di Pangkep ouaslah dengan kuliner yang ada di sana.

Mie Kering


Sekitar ba'da isya' waktu setempat kami menuju Makassar. jadi malam terakhir kami memutuskan untuk menginap di Makassar saja agar lebih dekat dengan bandara dan juga bisa sekalian ekplor Makassar hehehe, harap maklum ya. yang penting tugas utama kami untuk merekrut sudah selesai dan sisa waktu bisa digunakan untuk beristirahat dan jalan0jalan sejenak.

Kami memilih menginap di dekat Pantai Losari tepatnya di Losari Beach Hotel. Malam itu jalanan ke arah Pantai Losari macet karena ternyata di Pantai Losari sedang ada acara tahunan namanya acara F8. F8 ini adalah acara festival internasional yang menampilkan delapan sajian utama yang semuanya berawalan dari huruf F, yaitu Fashion, Film, Food & fruit, Folk, Flora & fauna, Fine arts, Fusion music, serta Fiction writers & font. (Cahyu, 2018. Liputan 6)

Malam itu karena kami sudah lelah kami tidak berminat melihat acara F8 kami hanya jalan-jalan di sekitar hotel sebentar dan mampir ke warung untuk beli minuman dan menikmati es pisang ijo. Keesokan harinya setelah sarapan kami baru jalan-jalan di sekitar pantai dan cari oleh-oleh.


Masjid 99 Kubah masih dalam proses pembangunan



Masjid Apung Amirul Mukminin

Maafkeun water mark  foto yang gede-gede hahaha ^______^


Rabu, 25 Juli 2018

Hallo Kalimantan!

Hal pertama yang terlintas di pikiran saya tentang pulau Kalimantan adalah pulau yang sebagian besarnya dikelilingi oleh hutan. Jadi banyangan saya saat ke Kalimantan saya akan melintasi jalanan yang di kanan dan kirinya adalah hutan. Namun ternyata saya salah saudara-saudara.

Pada bulan Mei dan Juli saya mendapatkan kesempatan untuk melakukan perjalanan ke Kalimantan. Perjalanan kali ini adalah dalam rangka melakukan asessment terhadap siswa pelatihan di Pelaihari. Pelaihari merupakan salah satu daerah yang berada di Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan.

Sepanjang perjalanan dari Bandara Syamsudin Noor ke Pelaihari yang saya lihat adalah tanah luas  yang merupakan area persawahan, rawa, dan juga beberapa ladang kelapa sawit. Saya juga melihat rumah-rumah panggung penduduk setempat dan juga bangunan-bangunan milik pemerintah serta pabrik. Dimana hutannya? itu pertanyaan saya.


Karena penasaran saya bertanya kepada orang setempat yang menjemput saya dan rombongan di bandara. Katanya yang banyak hutannya itu di Kalimantan Tengah bukan Kalimantan Selatan. Pantas saja saya tidak melihat hutan. Pengalaman pertama datang ke Kalimantan dan mengunjungi daerah Pelaihari saya cukup terkesan. Pada hari pertama kali menjalankan tugas listrik sempat mati beberapa kali. Padahal kami membutuhkan aliran listrik untuk menyalakan komputer agar siswa dapat mengerjakan tugasnya dengan lancar.

Selain itu pada hari terakhir di sana kami menyempatkan diri berkeliling di Banjarbaru. Kami diajak mengunjungi Taman hutan Raya di Banjar Baru. Mobil yakmi gunakan adalah mobil kijang versi lama yang sudah cukup tua. Dan taraaaa mobilnya sempat mogok beberapa kali sampai kami harus dijemput menggunakan mobil yang lain yang lebih baik kondisinya hehehe. Itu Tidak terlupakan karena dari situ kami malah bisa berinteraksi dengan penduduk lokal. Kami sempat numpang berteduh di rumah penduduk setempat dan mikin indomie wkwkwkwk.

Pada Kunjungan saya yang kedua ke Kalimantan saya ditugaskan ke Pelaihari lagi. Alhamdulillah, kali ini tidak ada insiden mati listrik lagi. Kegiatan asessment pun bisa kami lakukan dengan lebih cepat sehingga kami punya banyak waktu untuk beristirahat. Selain itu kami juga jadi lebih bisa menikmati Kota Banjarmasin. Pada Kunjungan yang pertama saya tidak sempat ke Banjarmasin. Begitu asessment selesai, pada hari kedua sekitar jam 17.00 WITA kami meluncur dari Pelaihari menuju Banjarmasin yang kurang lebih memakan waktu 1,5 jam.

Begitu sampai di Kota Banjarmasin kami langsung menuju tempat makan khas Banjar namanya Mie Bancir ala Agus Sasirangan. Rasa mienya cukup enak tapi bagi saya porsinya terlalu banyak (maklum porsi makan saya sedikit. Saya juga sempat menyicipi salad khas banjar yang terbuat dari timun yang diserut ditambah beberapa sayuran seperti selada dan lain-lain yang dicampuri saos dari daging sapi. Sedikit aneh menurut saya rasanya.

Malam itu begitu sampai hotel kami meletakkan barang-barang kemudian bersih-bersih badan. Rasanya tak ingin melewatkan waktu, saya dan teman-teman memilih jalan-jalan di tengah-tengah kota Banjarmasin. Keesokan harinya kami masih bisa menyempatkan diri melihat pasar terapung Lok Baintan sebelum check out. Alhamdulillah, terima kasih Banjarmasin!




ini harusnya tgl 11 Juli 2018



Senin, 04 Juni 2018

Jalan Hijrahku


Bismillaah, postingan kali ini adalah tentang kajian “Ini Jalan Hijrahku” yang disampaikan oleh Ustadz Salim A. Fillah pada  tanggal 29 September 2017 di Masjid Al Azhar Jakapermai Bekasi. Lama banget ya baru diposting sekarang:)

 Pertama-tama Ustadz Salim A.Fillah mengingatkan kembali tentang keutamaan menghadiri majelis ilmu. Siapa yang menempuh jalan untuk berdekat-dekat dengan majelis ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan menuju surga.

Atha’ Bin Abi Rabbah mengatakan, “Aku menyimak suatu hadist seolah-olah aku baru mendengarnya”. Padahal Atha' Bin Abi Rabbah sudah mengetahui hadist tersebut. Para salafus shaleh tak pernah menyia-nyiakan langkah kakinya untuk menuju majelis ilmu.

Di jaman sekarang dimana informasi tersebar begitu cepat dan mudah melalui media sosial bukan hal yang keliru saat kita mengambil ilmu dari youtube tetapi jangan melupakan untuk datang langsung ke majelis ilmu.

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat, akan dikelilingi para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya.” (H.R. Muslim)

Cara mendapatkan rahmat Allah adalah sering-sering datang ke majelis ilmu. Yang banyak gelisah datanglah ke majelis ilmu. Allah lebih besar dari kekhawatiran kita, lebih besar dari beban-beban yang kita rasakan. Jadilah kita orang yang terkenal di langit daripada di bumi.

Hijrah adalah kata yang indah. Dan sekarang ini hijrah menjadi sesuatu yang sangat populer.  Hijrah  generasi pertama ke Habasyah, hijrah generasi kedua ke Thaif. Tidak ada lagi hijrah ke madinah setelah Fathul Makkah. Hijrah masih dibuka oleh Allah untuk kita selama taubat masih dibuka. Taubat masih dibuka sampai matahari terbit dari barat.

Hijrah adalah meninggalkan sesuatu yang menghalangi kita dari meraih ridho Allah SWT, wujudnya bisa keluarga, pekerjaan, kekasih, lingkungan, dan lain sebagainya.

Dalam berhijrah ada 4 hal yang perlu kita lakukan:

Hijrah dalam hal keyakinan (Hijrah I’tikad)
Kita harus hijrah dari keyakinan-keyakinan yang keliru. Contoh keyakinan yang keliru antara lain keyakinan golongan Jabariyah yaitu kaeyakinan bahwa seseorang berbuat dosa karena takdir Allah. Kemudian contoh lainnya adalah keyakinan Khawarij, yaitu keyakinan dimana mereka memahami bahwa pelaku dosa besar dihukumi kafir. Dan contoh terakhir yang diberikan adalah keyakinan Murjiah, dimana mereka meyakini bahwa berbuat maksiat itu tidak apa-apa karena Allah SWT Maha Pengampun.
Kita harus melepaskan diri dari keyakinan yang salah. Bid’ah yang paling berbahaya adalah bid’ah dalam hal keyakinan (i’tikadiyah) bukan bid’ah amal.

Hijrah Tsaqafiah
Imam Ghazali pernah mengkritik orang-orang yang mendikotomi antara ilmu dunia dan ilmu akhirat pada masanya. Ilmu itu selama bermanfaat dan kita berlajarnya diniatkan untuk beribadah kepada Allah maka itu adalah ilmu Allah SWT. Jadi jangan memisahkan antara ilmu syariah dan ilmu kedokteran misalnya. Semua ilmu itu datangnya dari Allah SWT dan niatkanlah mempelajarinya untuk beribadah kepada Allah.

Hijrah Sulukiyah (Hijrah Perilaku)
Takkan lurus perilaku seseorang sampai lurus hatinya. Tak akan lurus hati seseorang sampai lurus lisannya. Jangan sampai perilaku kita merugikan orang lain, jangan sampai kata-kata yang keluar dari mulut kita menyakiti hati orang lain.

Hijrah Selera
Contohnya: yang tadinya suka dengerin rock jadi suka dengerin nasyid, yang tadinya suka dengerin nasyid jadi dengerin murotal, selera dalam memilih jodoh, makanan, dan lain-lain. Dilakukan sedikit demi sedikit, bertahap sesuai dengan perintah dan larangan Allah SWT.

Selain itu di dalam hijrah setidaknya ada 4 bekal yang harus kita siapkan, bekal tersebut adalah

Tadhiyah(pengorbanan)
Dalam hijrah selalu ada yang dikorbankan. Kita bisa mengingat kisah Mushab bin Umair, pemuda kaya raya yang rela meninggalkan kemewahan demi merasakan nikmatnya hidayah Islam. Sesuatu yang kita korbankan itu bisa jadi adalah sesuatu yang memberikan kita kenyamanan, kenikmatan, dan lain-lain. Kesiapan berkorban menjadi sesuatu yang mendasar dalam hijrah.

           At Tawakkal (berserah diri kepada Allah)
At Tawakkal adalah keberanian bersandar kepada Allah SWT bukan kepada yang lain.

At Ta’alum (suka belajar)
Jangan pernah merasa cukup. Belajar kepada siapapun termasuk kepada seseorang yang mungkin kedudukannya dalam pandangan umum lebih rendah dari kita.

At Tawadhu’(rendah hati)
Jangan pernah merasa lebih baik dari orang lain karena banyak orang yang sudah berhijrah kemudian merasa lebih baik dari orang lain, merasa paling pintar, dan paling benar. Kesalahan paling besar adalah tidak pernah merasa paling bersalah.

Untuk kajian lengkapnya bisa lihat juga di link berikut:

Wallahua'lam bishshawab
Semoga bermanfaat:)




Senin, 26 Februari 2018

Drama Hampir Ketinggalan Pesawat

Hari selasa-kamis (20-22 Februari 2018) saya ada tugas ke luar kota, tepatnya ke Wonosobo Jawa Tengah. Saya dan teman berangkat menggunakan pesawat dari bandara Halim Perdana Kusuma menuju bandara Adi Sucipto Yogyakarta. Dari Jogja kami naik travel ke Wonosobo. Nah drama terjadi saat kami akan berangkat menuju bandara Halim Perdana Kusuma. Tadinya saya mau berangkat sendiri ke bandara naik taksi online sekitar jam 9 pagi. Pesawat kami dijadwalkan berangkat pukul 11.20 WIB. Namun tiba-tiba teman saya mengirimkan pesan untuk barengan saja ke bandaranya. Dia yang akan nyamperin saya. Sekitar jam 09.30 WIB teman saya mengabarkan kalau dia sudah pesan taksi online tetapi belum juga datang. Sekitar jam 10 kurang akhirnya saya dijemput. 

Awalnya jalanan lancar tetapi memasuki pintu keluar tol Halim macet dan lama banget pergerakannya. Temen saya sudah mulai panik. Saya mencoba menenangkan diri dengan berdoa dan banyak dzikir. Sekitar pukul 10.45 WIB kami masih terjebak di tol dan diprediksi baru sampai bandara sekitar pukul 11.05 WIB. Harusnya kan jam segitu kami udah boarding. Nah ternyata di pingggir jalan banyak tukang ojek yang nongkrong. Akhirnya kami  memutuskan untuk turun di pinggir tol kemudian naik ojek. Alamak, saya yang pakai rok harus ngelompatin pembatas jalan tol yang cukup tinggi itu sampai mengangkat rok, hampir jatuh, dan saya baru sadar kalau ada yang merhatiin saya dari dalam bus Trans Jakarta. Ah betapa malunya, semoga nggak ada yang ngevideoin atau motret ya? takut viral dan terkenal hahahaha.

Akhirnya kami ngebut naik ojek dan nggak pakai helm. Duh saya deg-degan saat itu, takut kalau ditangkap polisi juga karena nggak pakai helm. Alhamdulillah bisa sampai bandara sekitar pukul 11.00 WIB dan taraaaa pesawatnya delay dong sampai sekitar 40 menit katanya. Fiuh lega rasanya, alhamdulillah. Saat di ruang tunggu sekilas saya melihat seseorang yang terkenal, eh iya ternyata Marchella Zalianty. Hahaha saya cuma merhatiin aja sih, nggak minta foto. Malu kali kalau lihat artis langsung heboh. Mereka juga manusia biasa hahaha.

Balik lagi soal drama hampir ketinggalan pesawat, sejujurnya saya juga panik saat masih terjebak di tol tetapi saya mencoba untuk tenang. Dalam kepanikan itu salah satu doa yang saya panjatkan adalah agar pesawatnya delay, alhamdulillah doanya Allah kabulkan. Katanya doa ketika kepepet itu memang manjur ya? Wallahua'lam. Yang jelas saya bersyukur sekali akhirnya tidak ketinggalan pesawat. Salah satu bonus dari kejadian ini adalah kami malah dapat tempat duduk paling depan. Padahal kalau milih kursi sendiri kena charge, eh ini malah dapat kursi paling depan yang lega banget buat nyenderin kaki hehehe. Alhamdulillah alhamdulillah. Ini adalah salah satu kenangan lucu plus dramatis buat saya:)


Rabu, 14 Februari 2018

Pindah Kos

Finally, saya pindah kos. Setelah sekitar 8 bulan tinggal di daerah Jl. Veteran sekarang saya pindah ke kos yang lebih dekat dengan kantor di daerah Kayuringin. Kos yang lama sebenarnya cukup nyaman namun dari 8 kamar yang ada saat ini hanya saya sendiri yang menempati. Horor kan? sebelumnya sih ada 5 kamar yang terisi, kemudian semakin berkurang dan berkurang. Alasan-alasan kepindahan anak kos kebanyakan adalah karena pindah ke luar kota. Tadinya masih tersisa dua orang di kos, saya dan satu orang lagi. Namun sekitar bulan September 2017 dia pindah. Ada kejadian yang kurang mengenakkan waktu itu, motornya hampir dicuri orang. Sejak saat itu saya tinggal sendirian. 

Sebenarnya ada ibu kos dan anaknya juga sih di lantai satu karena semua kamar kos di lantai dua. Sayapun bukan tipe orang yang penakut, apalagi kalau udah di kamar saya mah enjoy-enjoy aja. Tapi Saya merasa kesepian dan nggak ada teman. Selain itu ibu kos juga sering pergi ke rumah anaknya, jadi tak jarang saya sendirian di rumah yang luas itu (plus emang sebenarnya rumahnya nyeremin). Yang paling penting saya tuh butuh suasana yang seperti "rumah", yang banyak orangnya dan suasananya hangat.

Saya kemudian resah mencari kos-kosan, beberapa kali saya sudah meninjau langsung kos namun banyak yang nggak cocok. Ada yang cocok tapi ada kendala di tempat parkir motor sampai akhirnya saya melupakan rencana pindah dan tetap bertahan di kos lama meski sendirian. Sekitar satu setengah yang lalu saya dikabari teman kalau di daerah X ada banyak kos cewek. Sehari atau dua hari kemudian saya minta diantar ke lokasi X. Ada satu kos cewek pertama yang kami datangi dan sayapun langsung cocok. Ya sudah akhirnya bertransaksi dengan ibu kos dan menyampaikan rencana kepindahan saya.

Mencari kos memang bukan hal yang mudah, kayak nyari jodoh kali ya? hahaha, padahal saya mah belum teruji kalau soal jodoh hahaha (lha wong masih single #curcol). Ada saat dimana saya buru-buru banget ingin pindah tapi malah nggak dapat. Disaat saya mulai kalem nggak terburu-buru, eh ada aja jalannya dan rasanya kok mudah banget. Baru lihat satu kosan langsung cocok, alhamdulillah.

Berikut ini saya ingin memberikan beberapa tips dalam mencari kos sesuai dengan pengalaman saya, semoga bermanfaat ya. cekidot!

Referensi online
Saya biasanya seraching dulu di internet untuk mendapatkan beberapa referensi kos. Biasanya saya mencari lewat olx atau mamikos. Infonya cukup lengkap mulai dari  jenis kosnya (putra/putri/campur), lokasi, fasilitas, dan juga harganya. Kita bisa membandingkan antara kos satu dan kos lainnnya kemudian menentukan kos-kos mana yang akan kita datangi untuk memastikan kondisinya. 

Rekomendasi Teman
Nah kalau ada teman atau kenalan yang juga anak kos bisa meminta rekomendasi dari mereka karena ini sangat memudahkan. Enak juga kan kalau langsung dapat teman kos yang sudah kenal, paling nggak kita nggak akan merasa kesepian.

Melihan kondisi riil
Melihat kondisi riil kos-kosan ini penting banget agar kita nggak kecewa baik setelah mencari informasi online maupun setelah mendapatkan rekomendasi dari teman agar kita bisa membandingkan antara yang ditawarkan dan kenyataannya. Selain itu agar kita juga merasakan suasana dan "feelnya", biasanya kalau saya merasa cocok hati tuh rasanya nyaman dan yakin.

Cari yang strategis
Yang strategis itu yang seperti apa? kalau menurut saya yang strategis itu adalah: yang tidak jauh dari kantor karena ini akan menghemat tenaga dan biaya transportasi. Yang akses jalannya mudah, biar kalau pindah bawa barang-barang yang banyak kita nggak kesulitan ngangkutnya apalagi jika bawa kendaraan roda empat. Jangan sampai nyari kos yang berada di gang-gang sempit. Yang gampang untuk mencari tempat makan dan kebutuhan sehari-hari seperti toko kelontong, laundry, dan lain-lain

Nyari yang sudah isi
Nyari yang sudah isi maksudnya adalah nyari kos yang udah ada isinya, minimal ada kasur dan lemari. Soalnya repot banget kalau belum ada isinya, kita harus meluangkan waktu, tenaga, dan biaya yang lebih untuk mengisinya(minimal beli kasur atau lemari). Biasanya kos isi memang lebih mahal daripada kos yang kosongan, namun ini akan lebih memudahkan kita jika suatu saat harus pindah lagi (barangnya nggak kebanyakan).

Sesuaikan budget
Nah ini penting banget! Pilihlah kos sesuai dengan budget yang kita punya. Jangan memaksakan diri  pengen nge-kos mewah tapi malah setelah itu gaji kita terkuras hanya untuk bayar kos-kosan. Kalau kata seorang financial planner sih budget untuk sewa kos itu ya sekitar 10% dari gaji. Ya diutak-atiklah ya gajinya, ditimbang timbang dengan gaji sekian kira-kira besaran biaya kos yang mampu ditanggung berapa. Selain itu biaya pengeluaran sehari-hari juga jadi pertimbangan seperti biaya makan, transportasi, komunikasi, tabungan, investasi, dll agar status keuangan kita tetap sehat dan tidak lebih besar pasak daripada tiang.

Semoga tulisan ini bermanfaat! See you!

Jumat, 12 Januari 2018

Anak Rantau (Book Review)

Setelah beberapa kali mencari buku ini di Gramedia Mall Metropolitan Bekasi tetapi tidak menemukannya, akhirnya saya menemukannya di Gramedia Jogja City Mall (JCM) saat sedang mudik. Saat itu saya janjian dengan teman di JCM, sambil menunggu teman saya yang belum datang saya jalan-jalan di Gramedia dan akhirnya membeli novel Anak Rantau  karya A. Fuadi.

Karya-karya A. Fuadi yang sebelumnya yaitu Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna, dan Rantau 1 Muara sangat menginspirasi saya. Karena itu saya tidak ragu-ragu untuk membeli karya terbarunya Anak Rantau. Selain itu mungkin kesamaan nasib ya, sekarang saya jadi anak rantau jadi ingin tau apa yang diceritakan A. Fuadi dalam novelnya kali ini.

Novel ini bercerita tentang seorang remaja bernama Hepi yang merupakan keturunan Minang. Hepi sejak lahir sudah ditinggalkan oleh ibunya karena meninggal dunia setelah melahirkan  Hepi. Dia hidup bersama ayah dan kakak perempuannya di Jakarta. Hepi adalah anak yang cerdas dan suka sekali membaca buku. Alangkah mengejutkannya saat pembagian rapor kenaikan kelas wali kelas Hepi mengatakan jika Hepi tidak naik kelas. Ya, Hepi banyak berulah dengan sering membolos bahkan lembar ujiannya tidak diisi. Akibatnya rapornya kosong dan dia dinyatakan tidak naik kelas. Sang Ayah sangat terkejut karena menurutnya anakanya adalah anak yang pintar. Ayahnya tak banyak bicara namun dia sudah menyiapkan sesuatu untuk Hepi.

Ayah Hepi akhirnya mengajak Hepi mudik (pulang kampung) ke kampung halamannya di Tanjuang Durian Padang. Hepi senang sekali karena selama ini setiap kali Hepi mengajak ayahnya mudik ayahnya selalu keberatan. Ini sangat aneh menurut Hepi karena dia harusnya mendapatkan hukuman dari ayahnya namun ayahnya malah mengajaknya liburan ke kampung halaman. Apa yang dilakukan Hepi selama ini adalah bagian dari protesnya terhadap Sang Ayah karena ia menganggap ayahnya kurang memperhatikannya.

Betapa bahagianya Hepi akhirnya bisa merasakan mudik ke kampung halaman dan bertemu dengan kakek dan neneknya. Hepi juga mendapatkan teman baru yang benama Attar dan Zen. Hal yang mengejutkan lagi terjadi. Ternyata ayahnya  bersama kakek dan neneknya sudah membuat rencana untuk Hepi agar Hepi melanjutkan sekolah di kampung saja. Hal itu baru diketahui saat Hepi sudah berkemas dan akan ikut kembali ayahnya ke Jakarta namun ayah Hepi malah meninggalkannya. Hepi sangat marah dan kecewa terhadap ayahnya.  Hepi merasa dibuang oleh ayahnya. Kemudian dia bertekad akan mengumpulkan uang dan akan kembali ke Jakarta secepatnya. Di sinilah petualangan Hepi yang sesungguhnya dimulai.

Novel ini dikemas dengan latar bekalang adat istiadat Minang. Banyak hikmah yang bisa diambil dari novel ini diantaranya adalah tentang memaafkan, berdamai dengan masa lalu, ketuhanan,  nasionalisme, pendidikan, dan juga tentang hubungan anak dan orang tua.

Berikut adalah salah satu nasehat Pandeka Luko (salah satu tokoh dalam novel tersebut) yang cukup menyentuh: 

"Bagaimana sedih dan merasa terbuang itu melemahkan. Bagaimana terlalu berharap kepada manusia dan makhluk itu mengecewakan. Jadi, kalau merasa ditinggalkan, jangan sedih. Kita akan selalu ditemani dan ditemukan oleh yang lebih penting dari semua ini. Resapkan ini: kita tak akan ditinggalkan Tuhan. Jangan takut sewaktu menjadi orang terbuang. Takutlah pada kita yang membuang waktu. Kita tidak dibuang, kita yang merasa dibuang. Kita tidak ditinggalkan, kita yang merasa ditinggalkan. Ini hanya soal bagaimana kita memberi terjemah pada nasib kita."

Happy reading yaa!!!






Kamis, 11 Januari 2018

Long Holiday!


Yay! Alhamdulillah akhirnya anak rantau mudik. Mudik kali ini agak deg-degan karena H-2 mudik saya malah sakit demam sampai menggigil. Mungkin karena kecapekan setelah ada kegiatan 3 hari di daerah Jawa Tengah. Sebelum mudik saya mampir Bandung dulu, sengaja sih memang ingin jalan-jalan ke Bandung. Saya hanya semalam menginap di Bandung, seharian jalan-jalan di sana kemudian malamnya berangkat ke Jogja dari Bandung. Aduhai, karena kecapekan saya demam lagi saat perjalanan. Duh rasanya tidak nyaman sekali. Bawaannya pengen cepet-cepet sampai rumah.

Setelah perjalanan kurang lebih 8 jam akhirnya sampai di Jogja. Begitu sampai rumah saya istirahat di kamar. Setelah agak siang Ibu saya mengajak saya untuk ke rumah sepupu saya dalam rangka persiapan pernikahan sepupu. Tadinya  nggak ingin ikut, eh akhirnya ikut juga. Seneng sih ketemu saudara-saudara.

Kurang lebih 8 hari saya di kampung halaman. Alhamdulillah, setelah dua tahun berturut-turut tiap akhir tahun terjebak di tanah rantau akhirnya tahun ini bisa pulang hehehe. Selama di kampung halaman saya lebih banyak di rumah  kalaupun pergi itu bukan dalam rangka berwisata hanya sekedar ketemu dengan teman-teman saja. Makan bareng, ngobrol, dan nostalgia hahaha. Tau sendiri kan tiap akhir tahun Jogja ramainya kayak apa, jadi ya mending di rumah aja.

Seharusnya saya mulai masuk kantor tanggal 2 Januari 2018 tetapi saya baru masuk tanggal 4 Januari 2018. Saya ijin karena tiket kembali ke arah Jakarta sebelum tanggal 2 Januari sudah habis. Saya kembali ke Bekasi lewat Bandung karena tiket yang arah ke Jakarta tinggal tiket kereta dengan connecting train (harus transit dulu di Bandung dan memakan waktu sekitar 14 jam). Mending saya memilih tiket Jogja-Bandung kemudian di lanjutkan dengan Bandung-Bekasi dengan kereta. Saya lebih bisa mengatur waktu saya untuk transit di Bandung dan sejenak jalan-jalan di kota kesayangan saya ini hehehe.

Oiya saat transit di Bandung saya menyempatkan diri ke Trans Studio Mall (TSM) untuk nostalgia dan ketemu teman kos saya yang akan menikah. Kami makan dan ngobrol bareng. Saat saya mau ke stasiun ternyata hujan deras sekali. Mau nggak mau saya harus naik taksi atau order Go Car. Akhirnya saya order Go Car. Saat itu memang saat jam sibuk dan macet. Saat order Go Car waktu menunjukkan pukul 18.30 WIB dan kereta saya akan berangkat pukul  19.25 WIB. Driver Go Car  mengatakan tak bisa menjamin saya bisa sampai stasiun sebelum kereta saya berangkat saat menelepon. Saya diminta menunggu sekitar 20 menit karena macet sekali katanya. Benar saja sekitar 20 menit mobilnya baru sampai di lobi TSM. Begitu mobil datang saya masuk mobil  dan mencoba menenangkan diri  dengan banyak berdzikir, pasrah saja ke Alloh. Kalau memang saya terlambat saya akan naik kereta yang jam 11 malam (saat saya cek di traveloka masih ada kursi terisa). 

Titik macet memang  di daerah jl. Gatot Subroto. Alhamdulillah saat sampai  di perempatan Jl. Pejuang dan seterusnya jalanan lancar jaya dan saya tidak terlambat sampai stasiun bahkan saya  masih punya waktu untuk menjamak qasar shalat magrib dan isya' saya di musholla stasiun. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah. Perjalanan yang panjang tapi mengasyikkan, saya sangat menikmatinya. Terima kasih ya Allah atas nikmat dan kemudahan-kemudahan yang Engkau berikan:)