Kamis, 16 Maret 2017

Fenomena Pemuda Hijrah

Alhamdulillah, semalem Alloh memberikan kesempatan bagi saya untuk hadir di Kajian Pemuda Hijrah di Masjid Trans Studio Bandung. Berbicara tentang hijrah maka sekarang ini hijrah menjadi sesuatu yang sangat populer. Media punya andil besar dalam mempopulerkan kata hijrah apalagi seperti yang kita ketahui banyak publik figur yang akhirnya melakukan hijrah sebut saja Sakti S07, Gito Rolis, Teuku Wisnu, Caesar dan masih banyak lagi.

Sebenarnya apa sih hijrah itu? Hijrah menurut bahasa adalah meninggalkan, menjauhi dari, dan berpindah tempat (Surana Dedi, 2015). Hijrah juga dilakukan oleh  Rasulullah SAW dan para sahabat demi menegakkan agama Islam. 

Hijrah dalam konteks sebagai seorang muslim menurut Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal memiliki dua maksud, yang pertama adalah hijrah hissi  yaitu berpindah tempat, berpindah dari negeri kafir ke negeri Islam atau berpindah dari negeri yang banyak fitnah ke negeri yang tidak banyak fitnah. Ini adalah hijrah yang disyari’atkan. Kedua Hijrah maknawi (dengan hati), yaitu berpindah dari maksiat dan segala apa yang Allah larang menuju ketaatan.

Jadi hijrah adalah perpindahan dari keadaan yang tidak baik menuju keadaan yang lebih baik, berpindah dari perilaku buruk kepada perilaku baik, berpindah dari maksiat menuju taat untuk mendapatkan ridho Alloh SWT. Saya selalu kagum jika menyimak kisah-kisah hijrah seseorang. Ada perasaan haru dan semangat yang merambat untuk terus berbenah.

Fenomena Pemuda Hijrah di Bandung  (SHIFT) sangat menginspirasi bagi saya. Saya juga pernah menuliskan tentang gerakan ini di postingan sebelumnya di sini. Haru dan bangga rasanya menyaksikan masjid dipenuhi anak-anak muda untuk sama-sama belajar dan mangkaji agama Islam. Menyaksikan semangat anak muda untuk terus berbenah dan menjaga ketaatan dengan cara yang mudah diterima dan menyentuh banyak kalangan, khususnya kalangan muda. 

Menurut saya pemanfaatan media sosial (FB, twitter, instagram, dll), publikasi yang menarik dan kreatif, dukungan komunitas gaul Bandung seperti komunitas Skateboard dan Motor, serta pembawaan Ustadz yang gaul, komunikatif, dan materi yang sesuai dengan kebutuhan anak muda menjadi faktor penentu kajian ini diminati kaum muda.


Fenomena Pemuda Hijrah ini sepertinya sampai di telinga petinggi Jabar. Buktinya semalam tanpa diberitahukan dalam video teaser sebelumnya, ada bintang tamu yang tak disangka hadir (mungkin sudah ada kontak dengan panitia tapi tidak dipublikasikan di video teaser). Ya beliau Gubernur Jawa Barat Bapak Ahmad Heryawan hadir dalam kajian semalam. Beliau sangat mengapresiasi anak-anak muda Bandung yang hadir pada kajian malam itu. Beliau juga mewasiatkan agar kita senantiasa menjaga ketaqwaan kepada Alloh SWT. MasyaAlloh, seneng ya kalau punya pemimpin sholeh karena bicaranyapun menghadirkan ketenangan.

Semoga apa yang sudah dilakukan Pemuda Hijrah ini menginspirasi banyak orang kuhusnya para pemuda. Di tangan pemudalah nasib bangsa ini ke depan. Kalau pemuda-pemudinya sholeh/ah dan taat kepada Alloh bukan tidak mungkin negeri ini bisa menjadi tonggak kebangkitan Islam yang rahmatan lil'alamin.

Saya teringat kata-kata Ucay mantan vokalis Rocket Rockers Band asal Bandung dalam sebuah tayangan, "Hijrah itu istimewa tetapi lebih istimewa lagi jika kita istiqomah". Ya, istiqomah itu ternyata lebih sulit. Banyak godaannya apalagi kalau kita tidak mampu memilih lingkungan pergaulan yang baik. Semoga kita dikumpulkan dengan orang-orang baik yang dapat membuat kita istiqomah. Semoga kita istiqomah hingga akhir hayat, aamiin. Terima kasih Pemuda Hijrah!





Selasa, 14 Maret 2017

OFFROAD DI LEMBANG

Alhamdulillah kemarin hari minggu saya mendapat kesempatan untuk mengikuti kegiatan offroad di Lembang. Kegiatan ini merupakan puncak dari acara Pelatihan Motivasi dan Pengembangan Instruktur yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktifitas Kementrian Ketenagakerjaan RI dimana saya bernaung dibawahnya.


Tadinya saya mengira offroad ini akan membuat saya pusing dan mual karena dalam banyangan saya kegiatan offroad ini adalah melaju dengan mobil jeep dengan kecepatan tinggi di jalan yang nggak mulus dan penuh rintangan. Kalau dipikir nggak mungkin juga sih kalau banyak rintangan tapi ngebut heheheh.

Saya belain nggak makan siang karena takut muntah, saya cuma makan pisang biar perut tetap tersisi. Sebelum mobil melajupun saya deg-degan dan sempat nitip pesan ke driver biar jangan kenceng-kenceng mengemudi mobilnya heuheu (norak dan sok tau banget ya saya?hehehehe)


Saat sudah jalan, baru nyadar oh ternyata offroad gini to. Melewati jalanan yang sempit kadang berlumpur yang membuat mobil terperosok, atau melewati jalan sempit yang berdinding tanah, atau melewati jalan yang berair sehingga airnya bisa masuk mobil. Mobil berguncang-guncang yang menyebabkan kita ikut berguncang ke kanan ke kiri, ke depan, ke belakang atau bahkan terlempar dari tempat duduk.

Kalau lihat di wikipedia offroad  adalah  mengendarai kendaraan di luar jalan raya, apakah itu jalan tanah, lumpur, pasir, sungai, atau batuan yang masih dalam kondisi apa adanya. Atau dengan kata lain perjalanan dengan kendaraan bermotor di luar jalanan beraspal.

Alhamdulillah saya nggak pusing dan nggak mual, malah saya seneng karena bisa menikmati alam dengan cara yang berbeda hehe. 

Bersama Tim Kelompok 3 (foto dari Mbak Neni)


Pelajarannya apa yang bisa diambil? jangan suka negative thinking karena apa yang kita prasangkakan belum tentu terjadi. Kadang jalan yang kita lewati itu tak selamanya mulus, berbelok lah, sempit, banyak bebatuan, atau ada hamparan air dan lumpur yang menghadang. Apapun jalan yang harus kita lalui maka hadapi, hayati, dan nikmati. 


Selasa, 28 Februari 2017

Catatan Anak Rantau #3 Mager

Mager alias males gerak menjadi salah satu penyakit anak kos terutama kalau weekend. Entah sindrom ini hanya saya yang merasakan atau juga dirasakan oleh anak kos yang lainnya. Tiap sabtu minggu bawaannya mager hehehe terutama sabtu pagi sih karena senin-jumat rutin ke kantor dari jam 07.30-16.00. Begitu sabtu pagi bawaannya nggak pengen kemana-mana dulu.

Kebiasaan mager kalau terus menerus dilakukan nggak baik juga sih karena akhirnya jadi nggak produktif. Glundang-glundung di kosan, gegoleran, mantengin medsos dll. Ini jadi tantangan saya tersendiri untuk melawan kebiasaan mager biar nggak mager-mager banget hehehe. Ada kalanya mager itu adalah sebagai sebuah me time untuk diri sendiri terlebih jika hari-hari sebelumnya aktifitasnya cukup padat dan melelahkan. Mager di kosan menikmati minuman dan cemilan favorit di temani sebuah film atau buku bacaan kadang jadi hadiah tersendiri. Kadang cuma dengerin musik atau lihat beberapa tayangan di youtube baik tayangan komedi, motivasi dan lain-lain sudah cukup. Nggak perlu biaya mahal-mahal untuk me time.

Oiya mager yang saya maksud dalam tulisan ini adalah mager dalam artian nggak keluar dari lingkungan kosan. Ya tetep gerak sih sebenernya sekedar mandi, bikin minum, atau nongkrong di balkon kosan hehe. Nggak keluar untuk jalan-jalan ke luar kosan


Sebenarnya hari sabtu-minggu saya nggak mager-mager banget sih hehe karena ada jadwal rutin pekanan yang harus diikuti. Tapi kadang ada waktu-waktu atau jam yang lebih longgar dan selo heheh. Kemarin minggu pagi saya lumayan selo karena baru ada acara jam 10 pagi. Nah kok sayang banget rasanya kalau pagi-pagi mager aja di kosan. Sejak semalem sebelumnya saya udah kepikiran untuk jalan-jalan pagi di kawasan Asia-Afrika dan Braga. Nggak perlu naik motor cukup naik angkot biar nggak terlalu capek dan lebih santai.

Pagi harinya setelah sholat subuh kok rasanya penyakit mager muncul. Ada rasa malas untuk merealisasikan rencana yang semalam saya pikirkan. Tapi tiba-tiba rasa malas itu menghilang dan sayapun bergegas siap-siap merealisasikan rencana saya. Setelah cuci muka, gosok gigi dll tanpa mandi hehehe saya menuju Asia Afrika menggunakan angkot. Cukup naik angkot sekali saja. Turun di alun-alun lalu jalan kaki dari alun-alun-gedung merdeka-braga-sampai daerah paberik kopi yang terkenal dengan kopi aromanya dan sampai alun-alun lagi.

Capek sih hehehe, tapi seneng dan puas.  Setelah itu naik angkot lagi  untuk pulang dan mampir sarapan  soto ayam kampung khas Tasikmalaya deket kosan yang dah jadi tempat langganan. Alhamdulillah nikmat banget. Kadang yang namanya jalan-jalan atau refreshing itu nggak harus jauh-jauh ya, ke tempat-tempat yang dekat dengan biaya terjangkau ternyata juga dapat membuat pikiran dan hati jadi lebih seneng.



Semoga weekend selanjutnya nggak mager-mager bangetlah ya, semoga weekend tetap produktif dan tetap sehat:). Ini ada tips dari  CNN yang sehari sebelumnya sudah saya baca hehehe. Semoga weekend tetap sehat hahaha

Kamis, 16 Februari 2017

Hijab Swimming Pool Lembang

Alhamdulillah, akhinya nemu tempat renang ramah muslimah di Bandung. Jadi beberapa waktu yang lalu saya baca postingan Si Cinta (Bu Atalia Kamil) yang menginformasikan telah dibukanya Hijab Swimming Pool di Lembang. Saya lihat dong foto-fotonya dan informasi-informasi yang ada di dalamnya. Ternyata Hijab Swimming pool ini satu komplek sama Floating Market Lembang. Ada 2 kolam renang yang outdoor (buat umum/campur) dan  yang indoor buat  wanita. 

Pintu Masuk



Dari kota Bandung memang cukup jauh lokasinya, tapi karena udah kepengen banget renang dan penasaran dengan lokasinya akhirnya dijabaninlah kesana. Biaya masuk kolam renang Rp. 50.000, menurutku memang cukup mahal sih kalau dibandingin sama biaya masuk kolam renang yang di Jogja hihihi (ya iyalah). Tapiiii, tempatnya emang enakeun, nyaman, luas, bersih, memanjakan mata dan airnya itu air hangat hehehe. 

Untuk kedalamanya sih nggak terlalu dalam, yang paling dalam sekitar 1,5 meter (indoor) tapi kalau yang outdoor saya nggak tau karena nggak nyobain hehehe. Fasilitas di area kolam renang ada kursi-kursi gitu buat nyantai selonjoran, mushola, toilet, cafe, dan area untuk berbilas yang cukup nyaman. Untuk tempat berbilasnya bisa milih  mau pakai air hangat atau air dingin. Untuk yang berenang wajib pakai baju renang. Sepertinya sih ada penyewaan baju renang cuma nggak sempat nanya-nanya karena saya dan teman sudah bawa baju renang sendiri.

kolam renang indoor
Dengan biaya masuk Rp. 50.000 per orang menurut saya  nggak rugi karena kita bisa langsung  masuk juga ke floating market. Kita bisa berjalan-jalan di taman-taman yang ada di sekitar area kolam renang dan floating market. Jadi ya wajar sih harganya segitu, secara di Bandung gitu lho hehehe. Untuk para muslimah yang pengen berenang dengan nyaman Hijab Swimming Pool ini sangat direkomendasikan. Happy swimming! Jangan sampai kesibukan melalaikanmu dari berolah raga!:)


kolam renang otdoor



Taman di area luar kolam renang








Kamis, 15 Desember 2016

Penasaran Dengan Tebing Breksi dan Candi Ijo

Alhamdulillah 8-12 Desember lalu bisa pulang kampung. Bahagia dan senangnya hari itu. Sekitar pukul 3 pagi kereta yang membawa saya dari Bandung sudah sampai di Stasiun Tugu. Saya menunggu hingga subuh tiba di mushala stasiun. Setelah subuh saya segera memsan taksi untuk sampai rumah.

Hari pertama saya langsung ke daerah Prambanan karena ada titipan teman yang harus segera disampaikan. Motoran dari rumah ke Prambanan memakan waktu sekitar 1 jam dengan kecepatan 40 Km/jam hehe. Saya memang selalu pelan jika naik kendaraan bermotor. Rumah-Selokan Mataram-Ringroad Utara-Jl. Solo, wah berasa nostalgia sepanjang perjalanan.

Setelah sampai di rumah yang dituju, cerita ngalor ngidul, ngemil dan makan siang kemudian pamitan. Sayang rasanya udah sampai daerah Prambanan kalau nggak sekalian bablas ke daerah wisata yang lagi nge-hits akhir-akhir ini. Kemana lagi kalau bukan ke Tebing Breksi dan Candi Ijo. Tak sulit menemukan Tebing Breksi maupun Candi Ijo karena sudah ada tanda-tanda yang dipasang di pinggir jalan. Kita tinggal mngikuti tanda-tanda tersebut. Kalau dari arah lampu merah Prambanan ambil arah ke selatan (arah ke Piyungan), nanti ikuti tanda-tanda yang sudah ada.

Saat itu saya sampai lokasi sekitar jam 14.30 WIB, panas dan sangat berangin pas di atas tebing. Hmm sekilas saya jadi ingat GWK yang ada di Bali, di lokasi juga ada amphiteatre yang sepertinya akan digunakan untuk pertunjukan-pertunjukan, parkiran mobil dan sepeda motor, dan juga kantin. Namun saya lihat tempat wisata ini belum selesai sepenuhnya. Saat saya ke sana masih ada tukang yang sedang bekerja memasang bebatuan. Entah kedepannya mau dibikin seperti apa saya juga masih penasaran. So far lumayan lah pemandangannya, dari atas kita bisa melihat pemandangan kota Jogja. Kayaknya emang bakal lebih syahdu kalau kesananya pas sunset.


Nah setelah puas main di Tebing Breksi saya melanjutkan perjalanan ke Candi Ijo (hanya sekitar 500 meter dari Tebing Breksi). Saya suka suasana di Candi Ijo, karena berada di ketinggian kita juga bisa melihat pemandangan kota Jogja dari atas. Sesekali pesawat yang akan mendarat maupun lepas landas dari Adi Sucipto juga terlihat  dan menjadi pemandangan yang menarik. Di sekitar Candi ada beberapa pohon kersen yang bisa kita gunakan untuk berteduh karena dilengkapi kursi. Melihat Candi Ijo lebih adem rasanya dari pada m lihat Tebing Breksi

Duh sedih saya pas ngadem di kursi didatengi bapak-bapak yang sepertinya petugas kebersihan disitu terus nanya, 

"Mbak kok sendirian? Temannya mana?"

Saya memang sendirian kesitu heuheuheu, saya cuma jawab sambil senyum-senyum,

 "Hee, iya Pak"

Terus bapaknya nanya saya dari mana dll. Gak usah diceritain ya biar nggak baper.

Di saat yang lain datang bersama rombongan hari itu saya mbolang sendirian. Sedih? ya kadang miris sih hahaha, tapi yang dinikmati saja ya episodenya (kok malah jadi curhat?)

Saya sarankan kalau mau menikmati Tebing Breksi maupun Candi Ijo saat sore hari menjelang sunset gitu, pasti romantis #halah


Biaya masuk Tebing Breksi masih sukarela (infak seikhlasnya) untuk parkir motor Rp. 2000. Sedangkan di Candi Ijo biaya masuknya per orang Rp. 5000 dan biaya parkir motor Rp. 2000. Murah kan?
Silakan datang bagi yang penasaran, lumayan untuk menyegarkan pikiran dan menambah koleksi foto di instagram #lhoh!?!!!




Selasa, 06 Desember 2016

Perjalanan dan Pengalaman Spiritual


Melakukan perjalanan adalah hal yang menyenangkan terutama jika dilakukan bersama teman-teman. Mengunjungi daerah baru, menyicipi kuliner khas daerah setempat dan hal-hal baru lainnya. Bagi saya melakukan perjalanan atau bahasa kerennya travelling bukan hanya sekedar berhaha hihi habis-habisin waktu di jalan. Travelling bisa menjadi sarana menyegarkan pikiran sekaligus mengasah pengalaman spiritual.

Alhamdulillah 20-23 November 2016 lalu saya dan teman-teman mendapat kesempatan travelling ke Bali, Banyuwangi, dan Surabaya. Idenya memang mendadak, namun justru karena mendadak ini malah jadi cepat terealisasi. Berbagai transportasi kami gunakan, jalur udara, laut, dan juga darat.

Kami berangkat dari Bandung menuju Bali menggunakan pesawat. Selama di Bali kami menyewa mobil. Kemudian menuju Banyuwangi kami menggunakan kapal very. Waw, seru sekali perjalanan kali ini. Di Banyuwangi, karena salah satu tim kami asli Banyuwangi kami tak perlu  menyewa mobil maupun hotel. Tempat menginap dan transportasi sudah disediakan, alhamdulillah:)


Niat utama kami sebenarnya memang mengeksplor Banyuwangi. Namun karena tiket pesawat dari Bandung ke Surabaya lebih mahal daripada Bandung ke Bali akhirnya kami memutuskan ke Bali terlebih dahulu. Sehari-semalam kami di Bali, tak banyak yang kami jelajahi karena keterbatasan waktu. Pantai Kuta, Sanur, Uluwatu, dan Garuda Wisnu Kencana adalah tempat yang berhasil kami kunjungi. Puas main di Bali kami segera merapat ke Gilimanuk. Kami akan menyeberang ke Banyuwangi menggunakan kapal very. Ongkos kapal very ternyata murah sekali ya, setiap orang hanya dikenakan biaya Rp. 6000.
Sore itu meski lelah, kami cukup antusias. Menikmati sunset di atas very yang tidak terlalu padat penumpang. Ngobrol haha hihi dan saling berbagi cerita. Setelah sekitar satu jam very kamipun merapat ke dermaga. Jemputan sudah menunggu, kami shalat jamak qashar magrib dan isya terlebih dahulu. Alhamdulillah, tubuh terbasuh air wudhu, hati, jiwa, dan raga tunduk dalam penghambaan pada-Nya. Maka nikmat-Nya yang manalagi yang kan kau dustakan?


Malam itu kami menikmati kota Banyuwangi, bagi saya Banyuwangi mirip dengan Magelang. Melewati Alun-alun, Masjid Agung, dan heii di Banyuwangi ada mall. Kami mengira Banyuwangi itu terpencil dan tidak ada mall hehe. Seketika kami berhaaaaa bersama ketika melewati mall disusul gelak tawa seisi mobil.

Akhirnya sampai juga dirumah yang dituju, kami bersih-bersih, makan, istirahat sejenak kemudian melanjutkan perjalanan menuju Gunung Ijen. Jujur saya ngantuk dan capek banget sebenarnya. Sekitar pukul 10.30 kami menuju Ijen, dan sampai di basecamp sekitar jam 12 malam. Sudah banyak  traveller yang sampai di basecamp. Gerbang baru akan dibuka pada pukul 01.00 WIB. Kami membeli tiket dan bersiap-siap. Banyak sekali bule yang kami temui, mungkin karena dekat dengan Bali tempat ini ramai oleh orang asing.

Begitu gerbang dibuka kami langsung melakukan perjalanan. Di basecamp banyak jasa pemandu yang menawarkan diri namun kami tidak menggunakan jasa tersebut karena kami sudah punya tour guide sendiri wkwkwkwk. Jangan lupa senter, sarung tangan, maupun jaket saat melakukan pendakian. Oiya bawa air minum dan makanan secukupnya. Jalurnya memang tidak terlalu tinggi (2.443 mdpl). Tapi kalau kalian jarang olahraga ya bakal lumayan ngos-ngosan, yang nggak kuat jalan ada jasa becak (didorong oleh tenaga manusia). Jalur pendakian cukup lebar dan tidak terjal. 

Kami membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk mencapai puncak untuk kemudian turun lagi melihat blue fire. Jalur cukup terjal dan berbatu-batu mendekati blue fire. Ketika mendekat ke blue fire tiba-tiba blue fire padam dan menimbulkan asap yang membuat pedih mata. Kami sedikit panik kemudian naik lagi ke atas. Kami menikmati blue fire dari atas. Dan jeng-jeng, haripun mulai terang dan pemandangan Kawah Ijen memesona mata kami. Subhanallah indah sekali, kawah yang berwarna hijau toska ini menyihir setiap mata yang melihatnya. 

Setelah puas menikmati kawah Ijen kami segera turun ke basecamp. Pemandangan sepanjang perjalanan kembali ke basecamp juga tak kalah memanjakan mata. Lereng gunung dengan kontur yang khas, pepohonan, dan juga pemandangan Gunung Raung dan Kemukus yang terlihat seperti gunung kembar.
Perjalanan kami lanjutkan menuju Taman Nasional Baluran, konon ini merupakan Afrikanya Indonesia. Banyak hewan-hewan liar disana, ada rusa, monyet, banteng, ular kobra, burung merak, dan lain-lain. Alhamdulillah kami bisa menjumpai kawaran rusa, burung merak, banteng, dan juga monyet. Di ujung taman Nasional ada Pantai Bama yang dikelilingi hutan mangrove. 

Jujur kami lelah sekali hari itu. Sebenarnya masih ingin mengunjungi beberapa tempat di Banyuwangi namun kelelahan kami mengalahkan keinginan itu. Sekitar jam 5 kami sudah sampai rumah dan tertidur dengan pulas. Baru terbangun saat adzan isya, masyaAlloh.


Esok harinya (23/11) kami berangkat naik kereta dari Banyuwangi ke Surabaya. Sesampainya di Surabaya kami mampir di Royal Plaza untuk makan siang kemudian menuju Jl. Darmo untuk melihat patung suro dan boyo (icon Surabaya). Setelah itu kami mampir di Masjid Al Falah untuk menunaikan shalat. Acara di lanjutkan ke Excelso Surabaya. Ceritanya kami diundang oleh salah satu teman baik anggota rombongan kami. Alhamdulillah rezeki anak sholeh ada yang menjamu di Excelso:)

Setelah dari Excelso kami segera menuju Stasiun Gubeng untuk melanjtkan perjalanan ke Bandung. Alhamdulillah pas waktunya, tidak terlambat. Kurang lebih sekitar 13 jam kami menempuh perjalanan menggunakan kereta Surabaya-Bandung. Seru sih naik kereta rame-rame. Melelahkan namun kelelahan itu terbayar dengan pengalaman yang kami dapatkan.

Bagi saya melakukan perjalanan tak hanya sekerdar usaha untuk melepas stress namun bagian dari upaya untuk mengasah spiritual. Banyak pengalaman spiritual yang saya dapatkan selama perjalanan. Saat di udara saya merasa begitu kecil, Maha Besar Alloh yang menciptakan langit dan bumi. 

Alloh memberikan keringanan bagi para pejalan untuk menjamak qhasar shalatnya, betapa Alloh itu memudahkan kita untuk beribadah namun karena keegoan dan kemalasan kita tak jarang orang yang travelling lalai dari ibadah. Dengan travelling saya bisa mempraktekkan ibadah-ibadah yang selama ini baru sebatas teori saja seperti shalat di atas kendaraan, tayamum saat tidak mendapati air di puncak gunung dan lain sebagainya.

Niatkan setiap perjalanan untuk meraih ridho-Nya, insyaAllah kita akan mendapatkan apa yang kita niatkan.
Travelling memberikan waktu bagi saya untuk lebih banyak merenung sepanjang perjalanan, mengenali dan mengakui tanda-tanda kebesaran-Nya. Ah betapa kita ini sangat kecil dan tak ada artinya tanpa bimbingan dari-Nya.

See you to the next travell!!! :)


Senin, 14 November 2016

Catatan Anak Rantau #2 Berdamai Dengan Teh Tawar

Sejak kecil saya terbiasa minum teh manis setiap hari. Tiap pagi ibu atau Mbah Putri menyiapkan teh hangat untuk keluarga. Bisa dibilang saya tidak terlalu suka minum air putih karena rasanya nggak manis. Dulu kalau minum air putih biasanya saya tambahin gula biar manis. Saya mulai terbiasa dan doyan minum air putih tanpa gula ketika mulai aktif di Klub Badminton sejak kelas 4 SD. Sebelumya saya sangat tidak suka.

Di Bandung, di setiap rumah makan baik rumah makan sederhana (warteg, warung bakso, warung pecel lele dll) atau yang mahalpun (misal Cibiuk, Sop Buntut Dahapati dll) biasanya kita akan disuguhi teh tawar gratis. Awalnya saya merasa aneh dengan rasa teh tawar. Lha wong biasanya saya minumnya teh manis, eh ini dikasihnya teh tawar (teh tanpa gula). Ya kurang cocoklah di lidah heuheuheu

Seiring berjalannya waktu dan kebiasaan #cieh akhirnya terbiasa juga minum teh tawar. Lama-lama nikmat juga walaupun kadang-kadang saya suka nakal untuk tetap pesan teh manis hehehe. Yap, kadang kita harus berdamai dengal hal-hal yang tidak suka ya. Lama-lama ketika kita mau menerimanya kita juga akan menikmatinya. Sama halnya dengan air putih maupun teh tawar yang awalnya saya tidak suka. Kuncinya adalah menerima dan membiasakannya.

Dalam hidup ini pasti ada jugal hal-hal yang tidak kita sukai namun sering kita jumpai. Semoga kita bisa berdamai dengan hal-hal tersebut dan tetap menikmati hidup ini. Seee you di postingan berikutnyaa:)
Salam Teh Tawar!!!! hahahaha


Fenomena Pemuda Hijrah

Alhamdulillah, semalem Alloh memberikan kesempatan bagi saya untuk hadir di Kajian Pemuda Hijrah di Masjid Trans Studio Bandung. Berbicara ...