Senin, 18 Maret 2019

Berdialog dengan Diri Sendiri

Sabtu, 16 Maret 2019 jam 10.00 WIB saya janjian bertemu dengan teman-teman saya di Depok. Wah sudah lama sekali saya tidak main ke Depok. Biasanya kami berjanjian di Universitas Indonesia namun kali ini kami berjanjian di kopi.margonda (kopi titik Margonda) yang merupakan kafe milik teman saya. Sejak pertama kali dibuka beberapa waktu lalu saya belum sempat kesana.

Sepanjang perjalanan di dalam kereta saya sengaaja tidak bermain dengan smartphone karena main smartphone sambil berdiri itu sungguh tidak nyaman. Selain itu saya ingin menikmati perjalanan saya tanpa disibukkan dengan konten-konten di media sosial. Sepanjang perjalanan itu saya banyak berdialog dengan diri saya sendiri dan berdialog dengan Tuhan, Alloh SWT.

Banyak hal yang sudah Alloh karuniakan kepada saya baik yang saya minta secara langsung maupun yang tidak saya minta secara langsung. Belakangan ini juga ada beberapa hal yang mengganjal di hati dan pikiran saya. Saya mencoba jujur dengan diri saya sendiri dan mengomunikasikan apa yang saya rasakan  kepada Alloh, mulai dari masalah pekerjaaan, jodoh, dan lain-lain. Semakin kita jujur dengan diri kita sendiri, mau mengakui kekurangan dan kelebihan kita, kemudian mau menerima apapun yang sedang kita hadapi itu rasanya melegakan apalagi kita juga mengomunikasikannya kepada Alloh. Jadi, sepanjang perjalanan itu saya seperti mengobrol dengan Alloh di dalam hati (semacam curhat lah). Saya mencurahkan apa yang saya rasakan dan saya pikirkan.

Selama ini Alloh yang mencukupi kebutuhan kita, yang mengetahui apa yang kita rahasiakan maupun apa yang tidak kita rahasiakan dalam hidup, yang mengetahui apa yang kita inginkan dan yang tidak inginkan dan lain sebagainya. Hari itu saya benar-benar menikmati perjalanan saya walaupun sepanjang perjalanan dari Bekasi-Depok saya tidak mendapatkan tempat duduk di dalam KRL.

Alangkah bahagianya bisa bertemu dengan teman-teman baik saya yang bersamanya saya mendapatkan tempat dan merasa tidak sendirian. Alhamdulillah atas nikmat teman-teman yang baik. Lewat perjalanan ini saya juga mempraktekkan untuk sadar, penuh, hadir, dan utuh dalam perjalanan yang saya lakukan.



Oiya di Kopi Titik Margonda tempatnya cukup nyaman lho dan harganya juga bersahabat. Cobalah Creme Brule yang merupakan salah satu minumaan andalannya, rasanya enak:). Foto diambil dengan kamera smartphone dan diedit dengan menggunakan aplikasi canva:).

Senin, 11 Maret 2019

Love and Happiness

Pada bulan Agustus 2018 Yasmin Mogahed datang ke Indonesia untuk mengadakan seminar dan book signing. Sayapun membeli tiket seminarnya dengan iming-iming sekaligus mendapatkan bukunya Reclaim Your Heart. Kalau beli online di toko buku import gitu harganya sekitar tiga ratus ribuan rupiah. Akhirnya saya mendaftar acara seminar itu dengan harapan dapat buku Reclaim Your Heart versi asli bukan terjemahan.

Ternyata pada hari yang dijadwalkan saya tidak bisa hadir karena saya pulang ke Jogja. Akhirnya saya meminta teman saya untuk hadir acara tersebut. Sebenarnya sih pengen banget ketemu Yasmin Mogahed dan dengar seminarnya langsung tapi ya gimana lagi, tidak apa-apalah nggak hadir yang penting dapat bukunya.

Akhirnya teman yang datang ke seminarpun mengabari dan menunjukan bukunya. Ternyata dapat dua buku yaitu Reclaim Your Heart dan Love & Happiness tetapi versi terjemahan hahahaha. Penonton sedikit kecewa sodara-sodara, pengennya mah versi asli tetapi tidak apa-apa akhirnya penonton berusaha berlapang hati.

Eniwei yang Love& Happiness udah kelar saya baca. Isinya itu renungan-renungan singkat tentang kehidupan sehari-hari bertema cinta dan kebahagiaan. Banyak kutipan-kutipan inspiratif dan makjleb bagi saya. Kalau yang Reclaim Your Heart belum kelar dibaca karena bukunya cukup serius jadi bacanya pelan-pelan saja yang penting masuk di hati dan pikiran:)

Telat banget ya upload tulisan ini hehehe, tetapi tidak apa-apa yang penting ada update-an daripada tidak ada sama sekali^________^v


Selasa, 19 Februari 2019

Mencari Semangat yang Hilang


Pada bulan januari saya mengalami penurunan semangat dalam menjalani hidup. Saya menjadi tidak percaya diri, pesimis, galau, dan gampang sedih. Sejak akhir tahun hingga awal tahun banyak hal yang sedang saya hadapi. Ada beberapa permasalahan dan juga tanggung jawab yang harus saya laksanakan. Saya sangat kelelahan baik kelelahan secara fisik maupun secara pikiran.

Ada satu masa dimana saya benar-benar merasa kehilangan diri saya. Saya merasa saya tidak sedang baik-baik saja dan rasanya sulit keluar dari masalah ini. Sampai akhirnya saya mencoba menghubungi teman baik saya dan mencoba bercakap dengannya. Selanjutnya kami berjanjian untuk bertemu.

Ada setitik kelegaan setelah saya bercakap dengan teman saya. Saya merasa saya tidak sendirian. Sepertinya yang saya butuhkan memang ngobrol dengan teman. Akhir-akhir ini saya sering memendam permasalahan sendiri. Saya enggan dan malu bercerita dengan teman karena takut membebani. Padahal sesungguhnya saya sangat membutuhkan teman untuk berbagi.

Apa yang saya hadapi ini sepertinya merupakan akumulasi dari segala permasalahan yang saya hadapi dan saya belum menemukan titik-terangnya. Sepertinya ini juga bagian dari akumulasi emosi-emosi negatif yang selama ini saya pendam dan tidak saya selesaikan sehingga menumpuk dan siap diledakkan. Semua tampak kacau dan berantakan pada saat itu.

Selain mengajak ngobrol teman saya juga banyak berdo’a dan mendekatkan diri pada Alloh agar diberi jalan keluar. Saya memperbanyak istighfar, membaca alqur’an dan juga melakukan sholat malam. Alhamdulillah tiap kali sholat malam jiwa saya merasa tenang. Saya juga mencoba berdialog dengan diri saya sendiri untuk menggali apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang sebenarnya saya inginkan. Saya mencoba jujur dengan diri saya sendiri.

Saya mencoba merunut awal  mula mengapa saya bisa mengalami hal ini.  Akhirnya saya menemukan beberapa jawabannya:
  • Saya belum ikhlas menerima apa yang terjadi pada hidup saya, sayapun belajar mengikhlaskannya meskipun tidak mudah.
  • Saya sangat memaksakan diri saya sendiri, harusnya jika lelah ya beristirahat dan tidak memforsir tubuh maupun pikiran saya karena dampaknya tidak baik untuk fisik dan mental.
  • Saya tidak berani untuk mengatakan tidak pada orang lain, akhirnya saya malah menyulitkan diri saya sendiri. Jika tidak mau melakukan sesuatu atas permintaan orang lain beranilah untuk berterus terang dan mengatakan tidak.
  • Saya selalu merasa diburu-buru oleh waktu, akibatnya saya jadi grusah-grusuh, tidak sabaran, dan jadinya malah nggak teliti/ceroboh. Maka saya berusaha untuk menikmati apa yang saya lakukan, belajar bersikap tenang, hadir penuh, sadar dan utuh. Salah satunya dengan merasakan tarikan dan hembusan nafas serta hadir sepenuhnya dalam setiap aktifitas.
  • Saya kurang mengapresiasi diri saya sendiri meski dengan hal-hal sederhana, mulai saat ini saya belajar untuk mengapresiasi diri saya sendiri dengan hal-hal yang saya suka. Misalnya: jalan-jalan tiap akhir pekan, nonton drama favorit, dan lain-lain
  • Saya menyimpan masalah saya sendiri dan tidak membagikannya kepada orang yang tepat. Saya harus lebih banyak bertemu dan ngobrol dengan teman-teman saya terutama teman baik saya.

Ini adalah hikmah yang saya dapatkan ketika saya mengalami masa-masa sulit hingga nyaris putus asa. Semoga ke depannya jika saya mengalami hal-hal sulit lagi saya akan lebih mudah menanganinya. Semangaaat!:D


Rabu, 06 Februari 2019

6 Minggu di Korea!


Hallo 2019, tak terasa lagi-lagi waktu cepat sekali berlalu. Sekarang sudah tahun 2019. Banyak hal yang sudah saya lewati di tahun itu. Bagi saya tahun 2018 adalah tahun yang istimewa karena saya banyak mendapatkan kesempatan belajar. Salah satu kesempatan belajar yang sangat berkesan bagi saya adalah saya belajar selama 6 minggu di Korea, alhamdulillah.

Saya ingat sekali, waktu itu tanggal 16 Agustus 2018 saya ditelpon oleh kepala bidang yang membawahi saya. Beliau menyampaikan bahwa saya direkomendasikan untuk mengikuti pelatihan di Korea yang akan diselenggarakan pada bulan November 2018. Jujur saya cukup kaget, antara percaya dan tidak. Ini beneran nggak sih sampai pada akhirnya saya dihubungi oleh HKLN (biro di kementrian tempat saya bernaung yang mengurusi hubungan luar negeri). Pihak HKLN meminta saya untuk mengisi lembar aplikasi dan mengirikan foto untuk kepentingan pelatihan di Korea.

Sekitar seminggu setelah itu tiba-tiba saya dimasukkan ke dalam sebuah grup yang isinya adalah calon peserta pelatihan di Korea. Hati saya senang tapi tetap juga was-was. Masih kayak mimpi, beneran nggak ya saya bisa ke Korea? Singkat cerita akhirnya dari pihak Korea meng-acc pengajuan aplikasi kami. Proses selanjutnya adalah kami membuat paspor dan visa yang alhamdulillah sudah diurusi semua oleh HKLN.  Akhirnya untuk pertama kalinya saya punya paspor dan langsung paspor biru hehehe. Sejujurnya, sejak awal tahun saya sudah berencana membuat paspor tetapi karena kesibukan saya belum sempat membuatnya.

Tanggal 10 November 2018 pukul 23.30 WIB pesawat kami take off dari bandara Soekarno-Hatta menuju Incheon International Airport. Perjalanan yang kami tempuh cukup panjang yaitu sekitar 7 jam. Kami tiba di Incheon sekitar pukul 09.00 waktu Korea. Perbedaan waktu antara Korea dan waktu Indonesia bagian barat adalah 2 jam, Korea lebih cepat dua jam dari WIB.

Keluar bandara kami disambut dengan angin yang dingin, temperatur udara sekitar 13 derajat celcius. Saya masih belum percaya kalau saya berada di Korea sampai akhirnya saya melihat pemandangan-pemandangan khas musim gugur. Masih seperti mimpi rasanya. Saya belajar di kampus Koreatech yang berada sekitar 83,6 km selatan Seoul ibu kota Korea Selatan. Banyak hal yang saya dapatkan baik ilmu, skill, dan juga aneka pengalaman yang berkaitan dengan kebudayaan Korea.

Sudah hampir sebulan saya kembali ke tanah air, rasanya belum move on dari Korea. Banyak  pengalaman menarik yang saya dapatkan selama di Korea. Kadang jika sedang melihat dokumentasi kegiatan selama di sana saya masih suka melow dan pingin balik lagi kesana. Kalau kata temen ini adalah post travelling effect. Pergi ke luar negeri itu memang racun ya, nagih hehehe. Semoga saya bisa kembali lagi ke sana, aamiin.


di depan Kampus Koreatech
Di pusat kota Cheonan





Senin, 22 Oktober 2018

Hallo Sulawesi!

Heloo!!! udah lama banget ya nggak update blog, kalau anak jaman sekarang bilang jari ini mager rasanya (malas gerak hahaha). Kali ini saya ingin sedikit cerita pengalaman pertama saya ke Makassar.  Saya ke Makassar dalam rangka melakukan tugas kantor untuk merekrut calon peserta pelatihan. Tujuan utama saya bukan ke Makassarnya sih, tetapi ke kabupaten tepatnya ke Kabupaten Pangkep (singkatan dari Pangkajene dan Kepulauan) di Sulawesi Selatan.

Kami melalui perjalanan udara sekitar 2 jam. Alhamdulillah 2 jam nggak begitu terasa karena bisa tidur dan ada hiburan di pesawat hehehe. Begitu mendarat di Bandara Sultan Hasanudin saya kok malah jadi inget bandara Adi Sutjipto Jogjakarta ya? pemandangannya mirip yaitu dikelilingi bukit-bukit.

Alhamdulilah dinas yang kami tuju mengirimkan perwakilan untuk menjemput saya dan tim ke bandara. Kamipun langsung menuju Pangkep. Saya sangat menikmati perjalanan karena ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di pulau Sulawesi. Sempat ada kekhawatiran saat mau ditugaskan karena Sulawesi sedang ada musibah khususnya di Sulawesi Tengah, ternyata untuk daerah Sulawesi Selatan termasuk daerah yang aman. Alhamdulillah.

Di perjalanan, saya sambil membayangkan pulau Sulawesi sambil mengira-ira saya sedang berada di titik yang mana. Senangnya pas memasuki daerah Marros yang banyak terdapat bukit-bukit di kanan kirinya. Ternyata Obyek Wisata Ramang-Ramang yang terkenal itu ada di Marros. Bukit-bukitnya sih terlihat indah, namun saya dan tim tidak sempat mampir karena waktu itu sudah terlalu sore dan di hari berikutnyapun kami sangat sibuk.

Sekitar pukul 16.00 WIB kami sampai penginapan, sholat, istirahat, bebersih dan lain-lain. Kemudian kami diajak menikmati makanan yang bernama sop saudara.  Saya mengira sop saudara itu nama restoran seperti rumah makan sederhana, ternyata sop saudara itu adalah nama makanan. Jadi sop saudara itu semacam soto kalau menurut saya tetapi kuahnya menggunakan santan yang encer kemudian di dalamnya banyak daging dan jeroan. Enaaak nyaaaaammm.

Setelah itu kami juga diajak menikmati kuliner khas Makassar seperi sarabba (minuman yang terbuat dari jahe, santan, susu, bisa ditambahkan telor juga). Saya sih memilih sarabba yang biasa tanpa telor, takut amis kalau pakai telor hahahaha. Menurut saya sih sarabba itu mirip sama bandrek. Nikmat banget makan sarabba di pusat kota Pangkep sambil ditemani gorengan dan ngobrol ngalor ngidul. Saya sangat terkesan dengan keramahan panitia di daerah dalam menyambut kami.

Hari berikutnya kamipun melakukan proses seleksi yang cukup melelahkan. Ada sekitar 47 orang yang kami seleksi yang nantinya hanya akan diambil 25 perwakilan untuk diberangkatkan ke Bekasi untuk mengikuti pelatihan. Sekitar jam 17.00 WITA kami baru selesai dalam melakukan proses seleksi. Alhamdulillah leganya.

Oiya untuk siang harinya kami sempat menyicipi makan siang sop konro di dekat lokasi seleksi. Tempat makannya sih biasa kayak di rumah gitu tetapi ternyata banyak artis-artis yang pernah kesitu. Nikmat sekali lagi lapar langsung makan enak. Nama rumah makannya itu RM. Minasa Te'ne .

Sop Konro


Rasa sop saudara sama sop konro hampir mirip sih tapi kalau konro itu ada tulang-tulang nya yang gede hehehe. Malamnya sebelum ke Makassar kami sempat mencicipi Mie kering di salah satu cafe di Pangkep. Lumayan juga rasanya walaupun bagi saya porsinya terlalu besar. Mi kering itu mie yang digoreng kemudian disiram dengan kuah kental yang berisi sayuran dan daging ayam atau bisa juga sea food (tergantung mau pilih yang apa). 2 hari di Pangkep ouaslah dengan kuliner yang ada di sana.

Mie Kering


Sekitar ba'da isya' waktu setempat kami menuju Makassar. jadi malam terakhir kami memutuskan untuk menginap di Makassar saja agar lebih dekat dengan bandara dan juga bisa sekalian ekplor Makassar hehehe, harap maklum ya. yang penting tugas utama kami untuk merekrut sudah selesai dan sisa waktu bisa digunakan untuk beristirahat dan jalan0jalan sejenak.

Kami memilih menginap di dekat Pantai Losari tepatnya di Losari Beach Hotel. Malam itu jalanan ke arah Pantai Losari macet karena ternyata di Pantai Losari sedang ada acara tahunan namanya acara F8. F8 ini adalah acara festival internasional yang menampilkan delapan sajian utama yang semuanya berawalan dari huruf F, yaitu Fashion, Film, Food & fruit, Folk, Flora & fauna, Fine arts, Fusion music, serta Fiction writers & font. (Cahyu, 2018. Liputan 6)

Malam itu karena kami sudah lelah kami tidak berminat melihat acara F8 kami hanya jalan-jalan di sekitar hotel sebentar dan mampir ke warung untuk beli minuman dan menikmati es pisang ijo. Keesokan harinya setelah sarapan kami baru jalan-jalan di sekitar pantai dan cari oleh-oleh.


Masjid 99 Kubah masih dalam proses pembangunan



Masjid Apung Amirul Mukminin

Maafkeun water mark  foto yang gede-gede hahaha ^______^


Rabu, 25 Juli 2018

Hallo Kalimantan!

Hal pertama yang terlintas di pikiran saya tentang pulau Kalimantan adalah pulau yang sebagian besarnya dikelilingi oleh hutan. Jadi banyangan saya saat ke Kalimantan saya akan melintasi jalanan yang di kanan dan kirinya adalah hutan. Namun ternyata saya salah saudara-saudara.

Pada bulan Mei dan Juli saya mendapatkan kesempatan untuk melakukan perjalanan ke Kalimantan. Perjalanan kali ini adalah dalam rangka melakukan asessment terhadap siswa pelatihan di Pelaihari. Pelaihari merupakan salah satu daerah yang berada di Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan.

Sepanjang perjalanan dari Bandara Syamsudin Noor ke Pelaihari yang saya lihat adalah tanah luas  yang merupakan area persawahan, rawa, dan juga beberapa ladang kelapa sawit. Saya juga melihat rumah-rumah panggung penduduk setempat dan juga bangunan-bangunan milik pemerintah serta pabrik. Dimana hutannya? itu pertanyaan saya.


Karena penasaran saya bertanya kepada orang setempat yang menjemput saya dan rombongan di bandara. Katanya yang banyak hutannya itu di Kalimantan Tengah bukan Kalimantan Selatan. Pantas saja saya tidak melihat hutan. Pengalaman pertama datang ke Kalimantan dan mengunjungi daerah Pelaihari saya cukup terkesan. Pada hari pertama kali menjalankan tugas listrik sempat mati beberapa kali. Padahal kami membutuhkan aliran listrik untuk menyalakan komputer agar siswa dapat mengerjakan tugasnya dengan lancar.

Selain itu pada hari terakhir di sana kami menyempatkan diri berkeliling di Banjarbaru. Kami diajak mengunjungi Taman hutan Raya di Banjar Baru. Mobil yakmi gunakan adalah mobil kijang versi lama yang sudah cukup tua. Dan taraaaa mobilnya sempat mogok beberapa kali sampai kami harus dijemput menggunakan mobil yang lain yang lebih baik kondisinya hehehe. Itu Tidak terlupakan karena dari situ kami malah bisa berinteraksi dengan penduduk lokal. Kami sempat numpang berteduh di rumah penduduk setempat dan mikin indomie wkwkwkwk.

Pada Kunjungan saya yang kedua ke Kalimantan saya ditugaskan ke Pelaihari lagi. Alhamdulillah, kali ini tidak ada insiden mati listrik lagi. Kegiatan asessment pun bisa kami lakukan dengan lebih cepat sehingga kami punya banyak waktu untuk beristirahat. Selain itu kami juga jadi lebih bisa menikmati Kota Banjarmasin. Pada Kunjungan yang pertama saya tidak sempat ke Banjarmasin. Begitu asessment selesai, pada hari kedua sekitar jam 17.00 WITA kami meluncur dari Pelaihari menuju Banjarmasin yang kurang lebih memakan waktu 1,5 jam.

Begitu sampai di Kota Banjarmasin kami langsung menuju tempat makan khas Banjar namanya Mie Bancir ala Agus Sasirangan. Rasa mienya cukup enak tapi bagi saya porsinya terlalu banyak (maklum porsi makan saya sedikit. Saya juga sempat menyicipi salad khas banjar yang terbuat dari timun yang diserut ditambah beberapa sayuran seperti selada dan lain-lain yang dicampuri saos dari daging sapi. Sedikit aneh menurut saya rasanya.

Malam itu begitu sampai hotel kami meletakkan barang-barang kemudian bersih-bersih badan. Rasanya tak ingin melewatkan waktu, saya dan teman-teman memilih jalan-jalan di tengah-tengah kota Banjarmasin. Keesokan harinya kami masih bisa menyempatkan diri melihat pasar terapung Lok Baintan sebelum check out. Alhamdulillah, terima kasih Banjarmasin!




ini harusnya tgl 11 Juli 2018



Senin, 04 Juni 2018

Jalan Hijrahku


Bismillaah, postingan kali ini adalah tentang kajian “Ini Jalan Hijrahku” yang disampaikan oleh Ustadz Salim A. Fillah pada  tanggal 29 September 2017 di Masjid Al Azhar Jakapermai Bekasi. Lama banget ya baru diposting sekarang:)

 Pertama-tama Ustadz Salim A.Fillah mengingatkan kembali tentang keutamaan menghadiri majelis ilmu. Siapa yang menempuh jalan untuk berdekat-dekat dengan majelis ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan menuju surga.

Atha’ Bin Abi Rabbah mengatakan, “Aku menyimak suatu hadist seolah-olah aku baru mendengarnya”. Padahal Atha' Bin Abi Rabbah sudah mengetahui hadist tersebut. Para salafus shaleh tak pernah menyia-nyiakan langkah kakinya untuk menuju majelis ilmu.

Di jaman sekarang dimana informasi tersebar begitu cepat dan mudah melalui media sosial bukan hal yang keliru saat kita mengambil ilmu dari youtube tetapi jangan melupakan untuk datang langsung ke majelis ilmu.

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat, akan dikelilingi para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya.” (H.R. Muslim)

Cara mendapatkan rahmat Allah adalah sering-sering datang ke majelis ilmu. Yang banyak gelisah datanglah ke majelis ilmu. Allah lebih besar dari kekhawatiran kita, lebih besar dari beban-beban yang kita rasakan. Jadilah kita orang yang terkenal di langit daripada di bumi.

Hijrah adalah kata yang indah. Dan sekarang ini hijrah menjadi sesuatu yang sangat populer.  Hijrah  generasi pertama ke Habasyah, hijrah generasi kedua ke Thaif. Tidak ada lagi hijrah ke madinah setelah Fathul Makkah. Hijrah masih dibuka oleh Allah untuk kita selama taubat masih dibuka. Taubat masih dibuka sampai matahari terbit dari barat.

Hijrah adalah meninggalkan sesuatu yang menghalangi kita dari meraih ridho Allah SWT, wujudnya bisa keluarga, pekerjaan, kekasih, lingkungan, dan lain sebagainya.

Dalam berhijrah ada 4 hal yang perlu kita lakukan:

Hijrah dalam hal keyakinan (Hijrah I’tikad)
Kita harus hijrah dari keyakinan-keyakinan yang keliru. Contoh keyakinan yang keliru antara lain keyakinan golongan Jabariyah yaitu kaeyakinan bahwa seseorang berbuat dosa karena takdir Allah. Kemudian contoh lainnya adalah keyakinan Khawarij, yaitu keyakinan dimana mereka memahami bahwa pelaku dosa besar dihukumi kafir. Dan contoh terakhir yang diberikan adalah keyakinan Murjiah, dimana mereka meyakini bahwa berbuat maksiat itu tidak apa-apa karena Allah SWT Maha Pengampun.
Kita harus melepaskan diri dari keyakinan yang salah. Bid’ah yang paling berbahaya adalah bid’ah dalam hal keyakinan (i’tikadiyah) bukan bid’ah amal.

Hijrah Tsaqafiah
Imam Ghazali pernah mengkritik orang-orang yang mendikotomi antara ilmu dunia dan ilmu akhirat pada masanya. Ilmu itu selama bermanfaat dan kita berlajarnya diniatkan untuk beribadah kepada Allah maka itu adalah ilmu Allah SWT. Jadi jangan memisahkan antara ilmu syariah dan ilmu kedokteran misalnya. Semua ilmu itu datangnya dari Allah SWT dan niatkanlah mempelajarinya untuk beribadah kepada Allah.

Hijrah Sulukiyah (Hijrah Perilaku)
Takkan lurus perilaku seseorang sampai lurus hatinya. Tak akan lurus hati seseorang sampai lurus lisannya. Jangan sampai perilaku kita merugikan orang lain, jangan sampai kata-kata yang keluar dari mulut kita menyakiti hati orang lain.

Hijrah Selera
Contohnya: yang tadinya suka dengerin rock jadi suka dengerin nasyid, yang tadinya suka dengerin nasyid jadi dengerin murotal, selera dalam memilih jodoh, makanan, dan lain-lain. Dilakukan sedikit demi sedikit, bertahap sesuai dengan perintah dan larangan Allah SWT.

Selain itu di dalam hijrah setidaknya ada 4 bekal yang harus kita siapkan, bekal tersebut adalah

Tadhiyah(pengorbanan)
Dalam hijrah selalu ada yang dikorbankan. Kita bisa mengingat kisah Mushab bin Umair, pemuda kaya raya yang rela meninggalkan kemewahan demi merasakan nikmatnya hidayah Islam. Sesuatu yang kita korbankan itu bisa jadi adalah sesuatu yang memberikan kita kenyamanan, kenikmatan, dan lain-lain. Kesiapan berkorban menjadi sesuatu yang mendasar dalam hijrah.

           At Tawakkal (berserah diri kepada Allah)
At Tawakkal adalah keberanian bersandar kepada Allah SWT bukan kepada yang lain.

At Ta’alum (suka belajar)
Jangan pernah merasa cukup. Belajar kepada siapapun termasuk kepada seseorang yang mungkin kedudukannya dalam pandangan umum lebih rendah dari kita.

At Tawadhu’(rendah hati)
Jangan pernah merasa lebih baik dari orang lain karena banyak orang yang sudah berhijrah kemudian merasa lebih baik dari orang lain, merasa paling pintar, dan paling benar. Kesalahan paling besar adalah tidak pernah merasa paling bersalah.

Untuk kajian lengkapnya bisa lihat juga di link berikut:

Wallahua'lam bishshawab
Semoga bermanfaat:)